RADAR JOGJA – Pemprov DIJ sedang mematangkan pembentukan badan khusus yang ditugasi mengelola sumbu filosofis. Saat ini badan itu telah diusulkan ke Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai syarat pengajuan penetapan warisan dunia.

Paniradya Pati Benny Suharsono mengatakan, badan ini ditujukan untuk mengatur, mengawasi, dan mengelola kawasan sumbu filosofis. Yakni wilayah yang membentang dari Panggung Krapyak di Sewon, Bantul, hingga Tugu Golong Gilig di Kota Jogja.

Saat ini proses pengajuannya tengah diakselerasi. “Sudah dibicarakan dengan UNESCO yang dari Tugu sampai Keraton. Sekarang kami  desainkan dari Keraton ke Panggung Krapyak,” ujar Benny akhir pekan kemarin (1/2).

Proses pembentukan lembaga ini diprediksi akan memakan waktu panjang, karena pembentukannya juga tergantung pada UNESCO untuk melakukan asesmen. Pada 2021 badan ini ditarget akan memulai perannya sebagai pengelola dan pengawas sumbu filosofis. “Saat ini masih melengkapi kelengkapan administrasi dan mendiskusikan lembaga pengelolanya,” paparnya.

Lembaga ini bertugas untuk mengelola secara lebih detail kawasan sumbu filosofis agar tetap bisa mempertahankan nilai budaya, filosofi, hingga arsitektur bangunan. “Semacam (lembaga) ad hoc. Kalau sudah berjalan, nanti ada lembaga permanen yang mengelola,” tambahnya.

Nantinya, otoritas khusus ini bakal ditangani oleh birokrasi dan kalangan profesional. Lembaga harus mampu menghubungkan komunikasi antara Pemprov DIJ, pemerintah pusat maupun dengan UNESCO.

Sedangkan manfaat keberadaan lembaga ini adalah menjaga nilai dan fungsi tata ruang yang didesain oleh pendiri Kasultanan Jogja. “Karena tata ruang yang dibentuk betul-betul memperhatikan aspek-aspek sangkan paraning dumadi. Kesatuan manunggaling kawula gusti yang harus dijaga dan diwujudkan dari generasi sekarang dan ke depan,” paparnya.

Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji menuturkan, pengajuan dan permohonan pembentukan lembaga sudah diajukan ke UNESCO. Saat ini tinggal melengkapi beberapa kelengkapan yang dipersyaratkan. “Harus ada UPT (Unit Pelayanan Teknis) untuk mengelola. Pendataan bangunan-bangunan heritage juga sudah kami  susulkan ke UNESCO,” katanya.

UPT nantinya bertugas mengelola sumbu filosofis. Namun, Aji belum bisa memberitahu, UPT akan bernaung di bawah dinas apa. “Sebetulnya sudah lengkap, tinggal UPT dan pengelolanya. Agar lebih meyakinkan, setiap kami mendapat bukti baru kami kirimkan untuk penyusunan warisan budaya dunia,” tambahnya.  (tor/laz)