RADAR JOGJA – Lomba Jemparingan Mataraman III Tingkat Nasional kembali berlangsung di Lapangan Panahan Kenari, Minggu (2/2). Lomba yang diprakarsai oleh Kadipaten Pura Pakualaman bersama Dinas Pariwisata DIJ itu diselenggarakan rutin setiap tahun dalam rangka Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-214 tahun menurut kalender Jawa.

Salah satu panitia pelaksana lomba, KRT Radyo Wisroyo menyatakan untuk lomba jemparingan tahun ini mengalami peningkatakan dalam jumlah peserta. Pada ajang tahun ini, lebih dari 700 pemanah tradisional yang berasal dari Pulau Jawa dan Bali turut hadir dalam ajang tersebut. “Ya ada peningkatan, tahun lalu sekitar 680 peserta,” ujarnya kepada Radar Jogja disela acara.

Radyo menjelaskan, bahwa olahraga panahan tradisonal seperti jemparingan ini rupanya masih diminati oleh masyarakat. Bahkan, ia juga menyatakan untuk lomba jemparingan tahun ini ada batasan peserta. “Kami sengaja batasi hanya 700an saja, demi kenyamanan peserta itu sendiri,” jelasnya.

Dijelaskan, panahan tradisional jemparingan mataraman memiliki keunikan. Salah satu yang paling unik adalah para pemanah harus duduk ketika akan membidik sasaran yang berupa bandul. “Di daerah lain ada yang pakai kuda, tapi mataraman ini khasnya ya duduk seperti ini,” jelasnya.

jemparingan mataraman merupakan salah satu dari kekayaan budaya yang harus tetap dilestarikan. “Jemparingan ini ada sisi olahraga dan olahrasa, sehingga secara fisik dan mental jemparingan sangat bagus untuk dilakukan,” tandasnya. (kur/bah)