RADAR JOGJA – Musya ingin menyampaikan nilai-nilai pemberdayaan wanita melalui karya fiksi, novel. Hilda merupakan karya novel pertamanya yang mendapatkan sambutan dan respons baik dari pembaca. Dalam waktu satu minggu, novelnya sudah terjual 500 eksemplar.

Musya, panggilan akrab Siti Muyassarotul Hafidzoh, mengaku   sudah senang menulis dan membaca sejak kecil. Saat nyantri di Ponpes Pesantren Kajen, Cirebon, dan Krapyak Jogja serta kuliah di UIN Sunan Kalijaga (Pendidikan Bahasa Arab), hobi menulis itu ia asah lagi.

Ia pun makin semangat karena tulisannya sering dimuat di media lokal maupun nasional. Musya berkeinginan menjadi seorang penulis. “Saya kerja apa pun, entah itu menjadi dokter, guru, atau apa, saya akan tetap menulis,” papar ibu dua putra, Umar Tsaqib dan Kafabihi Falah ini.

Hingga saat ini ia berhasil mewujukan mimpinya menjadi seorang penulis dengan menulis novel Hilda (Cinta, Luka, dan Perjuangan). Novel itu bercerita tentang seorang perempuan yang mengalami kekerasan seksual. Kemudian anak perempuan itu (tokoh Hilda) mendapatkan diskriminasi dari sekolah, masyarakat dan teman-temannya.

Misi terbesar Musya dalam cerita ini untuk menyadarkan masyarakat yang belum bisa membedakan mana yang disebut korban kekerasan seksual dan zina. Masyarakat masih menganggap orang yang mendapatkan pelecehan seksual atau kekerasan seksual atau korban adalah zina.

Padahal, kedua hal itu sangat bertolak belakang. Untuk itu, ia berharap melalui novel ini, pembaca menjadi melek. Dan, nilai-nilai pemberdayaan perempuan yang ada di novel tersebut tersampaikan dengan baik. “Semoga cerita dalam novel ini tidak terkesan menggurui,” harap alumnus S2 Manajemen Pendidikan UNY ini.

Hilda adalah novel pertama Muyas dan mendapat sambutan luar biasa dari para pecinta novel. Ia berproses dari awal hingga launching sekitar satu tahun. Novel terbit 23 Januari, tetapi mulai dikenal pembaca pada 25 Januari. Novel kali perama di-launching 31 Januari 2020. “Bangga sekaligus tidak menyangka novel saya akan secepat ini. Banyak yang membeli dan pre-order,” tutur pecinta novel Kimya Sang Putri Rumi itu.

Ia menceritakan, sebenarnya novel itu awalnya sebuah cerita bersambung yang ia unggah di web organisaSinya. Kebetulan  ia pengelola website tersebut. Dari situ ia mulai berpikir untuk membuat cerita bersambung (cerbung) agar website tidak terlalu sepi.

Cerbungnya mendapat banyak respons positif para pembaca. Kemudian banyak teman yang menyarankan ia untuk menovelkan cerita-cerita bersambung yang ia unggah di website. Dari situ, ia mulai bertekad membuat cerita bersambungnya menjadi sebuah novel.

Ia melanjutkan beberapa episode dari cerbung di websitenya di novel Hilda ini. “Ada beberapa episode tidak ada di website, hanya ada di novel Hilda saja,” tutur istri Muhammadun yang tinggal di Wonocatur, Banguntapan, Bantul, ini.

Tentu bukan sesuatu yang mudah untuk menjadikan novel dengan 507 halaman itu. Banyak lika-liku dalam menulisnya, apalagi ia seorang ibu rumah tangga yang harus mengurus anak-anaknya. Ditambah lagi, ketika ia menulis episode 20 ke atas, ia harus mengurus ayahnya yang sakit dan harus berangkat ke Cirebon.

Pada saat itu, menurut wanita kelahiran Cirebon, 25 Januari 1988 ini, adalah titik terberatnya dalam menulis novel Hilda. Karena selain mengurus ayahnya yang sakit, ia juga mengurus Falah, anak keduanya. Di tambah lagi, ia sedang hamil muda anak ketiganya. Namun, ia harus tetap menulis agar novelnya cepat selesai. Tak jarang orang tuanya memarahi karena sedang hamil muda, tetapi sering begadang untuk menulis.

Mulai episode 30, kondisi ayahnya mulai menurun dan ayahnya meninggal pada 18 September 2019. Di satu sisi ia sedang mengalami duka, tetapi di sisi lain ia harus tetap menghadirkan cerita yang bahagia. Karena kebetulan episode itu adalah epidose kisah percintaan Hilda muncul. Ia mengaku sedikit kesulitan saat mengolah perasaannya. “Saya harus menulis cerita yang berbunga-bunga, tetapi saya sedang berduka. Sampai satu minggu setelah ayah meninggal, saya tidak melanjutkan menulis,” jelas wanita  yang kini aktif di Litbang Fatayat NU DIJ.

Motivasi terus menulis dan menyelesaikan Hilda adalah kata-kata dari penulis lain “Tulisan yang  bagus adalah yang selesai”. Ia selalu mengingat ungkapan itu, sehingga akan terus termotivasi dalam menulis. Ia selalu setia dengan proses, karena yakin bahwa lika-liku pasti ada dan jika setia maka akan menetaskan dengan sendirinya. (cr1/laz)