RADAR JOGJA – Desain trase tol Jogja-Solo yang melintasi simpang empat Monumen Jogja Kembali (Monjali), dipastikan berubah. Ini dilakukan agar tidak mengusik kebaradaan sumbu filosofis. Trase yang semula dibangun melayang kini dengan konsep at grade saat melintasi simpang empat itu.

Revisi desain tol sudah dikerjakan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dengan mempertimbangkan masukan dari Gubernur Hamengku Buwono X. Desain sudah disepakati pemerintah pusat dan Pemprov DIJ.

Karena dibangun secara at grade, bakal ada sepenggal jalur ringroad yang difungsikan sebagai jalan tol, khusus untuk sekitar simpang empat Monjali. “Jadi yang lewat Monjali akan lewat bawah (at grade). Dengan jarak konstruksi kurang lebih ke barat 700 meter dan ke timur 300 meter. Selebihnya tetap elevated,” jelas Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIJ Krido Suprayitno di Kompleks Kepatihan, Senin (3/1).

Ini sejalan dengan permintaan gubernur yang ingin melestarikan keberadaan sumbu filosofis yang membentang dari Panggung Krapyak hingga Gunung Merapi. Desain juga mempertimbangkan agar tidak mengganggu fungsi perempatan Monjali. “Diterapkan, sehingga tidak mengganggu fungsi perempatan Monjali,” jelasnya.

Dalam desain ini, nantinya akan dibuat jalur memutar di sisi barat dan timur Ringroad sekitar Monjali. Titik putaran berada di bawah jalur tol. Arus lalu lintas dari arah selatan ke utara harus berbelok ke arah barat melewati bagian bawah tol, kemudian kembali ke timur menuju Jalan Monjali.

Sedangkan arus dari utara ke selatan akan berbelok ke timur terlebih dahulu, sebelum berputar ke barat dan menuju selatan. “Yang dari utara ke selatan sama, ke timur dulu sekitar 200-300 meter langsung muter. Sehingga tidak akan mengganggu fungsi perempatan monjali secara umum,” paparnya.

Terkait tahapan sosialisasi, pihaknya akan melanjutkan proses itu di Desa Condongcatur Selasa (4/2) mendatang. Setelah sebelumnya sosialisasi harus dilakukan melompati kawasan Condongcatur, akibat belum ditetapkannya desain trase di simpang empat Monjali.

Pada Rabu (5/2) sosialisasi berlanjut di Desa Maguwoharjo, Depok. Sedangkan Kamis (6/2), sosialisasi trase Jogja-Solo akan berakhir di Desa Tlogoadi, Mlati. “Setelah itu selesai sudah prosesi berkaitan persiapan yakni sosialisasi,” jelasnya.

Pada pertengahan Februari pihaknya menarget akan melakukan tahapan konsultasi publik atau pengadaan lahan. Dengan prinsip, desa-desa telah siap dan melakukan validasi data. “Sehingga tidak ada kesalahan alamat dan pemilik tanah yang diundang. Konsultasi publik penting karena untuk proses selanjutnya berkaitan penlok (penetapan lokasi),” paparnya.

Untuk trase tol Jogja-Bawen, proses sosialisasi dan konsultasi publik akan diselenggarakan secara paralel. Dilakukan secara bersamaan guna mengejar keterbatasan waktu. Sosialisasi dilakukan secara kolektif dengan sistem keterwakilan berbagai unsur.

“Kami akan melakukan sosialisasi kolektif dulu. Untuk Jogja-Bawen kami instruksikan perwakilan dari pemerintah desa. Dari pemerintah desa akan menindaklanjuti secara getok tular (mulut ke mulut) informasi-informasi yang kami sampaikan di sosialisasi awal,”  tandas Krido. (tor/laz)