RADAR JOGJA – Tak bijak bersosial media, kalimat ini tepat disematkan kepada sosok Uung Kamaludin. Niat hati menjadi terdepan dalam memberi informasi, warganet ini justru bertingkah. Video kecelakaan lalulintas di Prumpun Muntilan Magelang dia sulap menjadi video bernarasi aksi kriminalitas jalanan.

Pria berusia 36 tahun ini tak menyangka. Unggahannya di whatsapp group ternyata viral. Alhasil video tersebut menyebar hingga sosial media lainny. Narasinya tetap sama, dua pria dalam video tersebut merupakan korban aksi kriminalitas jalanan.

“Video ini tersebar kemarin (3/2) di sejumlah sosial media. Narasinya sangat provokatif tapi informasinya hoax. Ini bahaya, selain penyebaran berita bohong juga menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat,” jelas Dirreskrimsus Polda DIJ Kombes Pol Yoyon Tony Surya Putra ditemui di Mapolda DIJ, Selasa (4/2).

Tak butuh waktu lama, pasca tersebarnya hoax, polisi menangkap pelaku pada hari yang sama. Bersamanya turut diamankan sejumlah bukti berupa tangkapan layar whatsapp grup Sor Ringen Bandara.

Dalam grup beranggotakan 30 orang tersebut, penyidik juga menemukan video awal. Berdurasi tigapuluh detik, video ini menampilkan dua pria terkapar di jalan raya. Lalu ada pula flashdisk berisikan video tersebut. Dugaan awal, pelaku sengaja menyimpan video untuk disebar kembali.

“Sebenarnya pelaku ini sudah diingatkan oleh temannya di WA grup. Tapi pelaku ini malah ngeyel dan menentang untuk melihat korban klitih tersebut. Padahal ya tidak ada karena kejadiannya sebenarnya lakalantas di Muntilan,” katanya.

Tony  menyayangkan adanya aksi tersebut. Terlebih pelaku tidak melakukan klarifikasi atas informasi. Bermodalkan perspektif, Uung nekat menyebarkan kabar bohong. Padahal pria asal Kuningan Jawa Barat ini juga tak mengetahui detil peristiwa.

“Masih kami dalami apakah pelaku inin juga terlibat aksi-aksi hoax lainnya. Mengingat dia (Uung) masih sempat menyimpan video dalam flashdisk. Bisa jadi sengaja simpan lalu disebar lagi,” ujarnya.

Atas aksinya ini dijerat dengan Pasal berlapis. Pertama dengan Pasal 14 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Lalu Pasal 28 ayat (2) UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Pria yang keseharian berprofesi sebagai pengemudi taksi online ini tertunduk diam. Berbagai pertanyaan tak dijawab olehnya. Kini Uung resmi menjadi penghuni tahanan Polda DIJ.

“Masing-masing ancaman hukuman penjara tiga tahun dan enam tahun. Untuk yang ITE masih ada ancaman denda maksimal Rp 1 Miliar,” tegasnya. (dwi/tif)