RADAR JOGJA – Proyek revitalisasi pembangunan gedung cagar budaya Bangsal Sewokoprojo, Wonosari jadi temuan Tim Administrasi Pembangunan Setda Gunungkidul. Hal tersebut terungkap dalam inspeksi mendadak (sidak) kemarin.

Kabag Administrasi Pembangunan Setda Kabupaten Gunungkidul Hermawan Yustianto mengatakan, sidak dilakukan untuk menyinkronkan kesesuaian hasil pengerjaan dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Jika ternyata tidak sesuai, harus diperbaiki.“Kalau dilihat dari hasil pengerjaan kurang rapi. Apalagi pengecatan agak kusam,” kata Hermawan Yustiyanto.

Selain itu pihaknya juga menyoroti bahan kayu yang digunakan untuk plafon. Bahan kayu terlihat basah sehingga cat tidak bisa meresap maksimal. Masih mengandung getah, sehingga ada kemungkinan kayu ditebang belum lama. “Kalau menggunakan kayu kering, meskipun basah pasti menguap dan saat pengecatan dapat meresap dengan baik,” ucap mantan pemborong itu.

Tim juga menemukan pemasangan plafon tidak simetris. Muncul rongga pda setiap sambungan sehingga tidak enak dilihat. Padahal, Bangsal Sewokoprojo ini merupakan cagar budaya dan menjadi ikon Kabupaten Gunungkidul.

Kepala Bidang Pelestarian dan Nilai Budaya, Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul Agus Mantara mengatakan, pihak rekanan sudah diundang oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul Agus Kamtono. ”Kepada rekanan untuk bersiap-siap melakukan perbaikan di masa pemeliharaan,” kata Agus Mantara.

Lalu apa yang nanti diperbaiki pada masa pemeliaraan, mantan Sekcam Nglipar itu mengaku masih menunggu hasil dari monitoring Tim Administrasi Pembangunan Setda Gunungkidul. “Rekomendasi nanti yang muncul akan ditindaklanjuti pada masa pemeliharaan,” ujarnya.

Proyek revitalisasi pembangunan cagar budaya dan warisan budaya di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari menelan anggaran Rp 925.196.423.56. Waktu pelaksanaan selama 75 hari kalender dimulai 14 Oktober 2019. Belakangan jadi gunjingan karena hasil pengerjaan dinilai tidak maksimal. (gun/din)