RADAR JOGJA – Sebagai sekolah inklusi, tak hanya siswa difabel, yang terdampak terhentinya renovasi SDN Bangunrejo 2, Tegalrejo. Para siswa kelas 6, yang akan menghadapi ujian nasional (UN) pun terdampak. Mereka harus belajar di Pos Kamling.

Ya, karena termasuk dalam kasus perkara dugaan suap yang melibatkan Jaksa Eka Safitra, renovasi SDN Bangunrejo 2 harus berhenti. Dampaknya para siswa yang menjadi korban. Mereka sudah setahun numpang di SDN Bangunrejo 1.

Kepala Sekolah SDN Bangunrejo 2, Subagya mengatakan, salah satu yang paling terdampak adalah siswa kelas 6. Saat ini, untuk pelajaran tambahan mereka belajar di Pos Kamling. “Kalau di sini kan pagi ruangannya dipakai (siswa SDN Bangunrejo 1) sehingga di pos kamling. Ini juga memanfaatkan jam pagi saja supaya hasil UN bagus,” ujarnya, Kamis (6/2).

Pembelajaran tambahan itu mulai diintensifkan sejak dua bulan terakhir ini untuk mempersiapkan UN. Karena jatah pagi dipakai oleh siswa SDN Bangunrejo 1, maka siswa memakai ruang kosong seadanya untuk belajar di luar pembelajaran reguler. Biasanya siswa kelas 2-6 itu belajar shift kedua pukul 12.00-17.00. Siswa kelas 1 belajar reguler shift pagi dengan memanfaatkan ruang perpustakaan. “Resminya masuk kelas ya siang. Karena waktu yang sangat mendesak dan urgent, guru kelas enam, menambah pelajaran di luar kelas,” jelasnya.

Kondisi tersebut ditanggapi oleh, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Jogja, Dedi Budiono mengatakan pemanfaatan pos kamling sebagai ruang untuk belajar tambahan siswa kelas 6 itu karena ada yang menginginkan siswa belajar pada shift pagi. “Saya yakin itu karena ada yang ingin berangkat pagi,” katanya.

Sedangkan pembagian shift kelas pagi dan siang untuk kegiatan pendidikan SDN Bangunrejo 1 dan 2 itu sudah berdasarkan musyawarah dengan warga sekolah maupun masyarakat. “Kalau analisis kecukupan tempat dengan dua shift itu kapasitasnya sangat ckup. Karena murid di Bangunrejo 2 lebih sedikit,” ujarnya.

Dedi mengakui, ssempat ada wacana sebelumnya untuk melakukan penggabungan. “Nek digabung sakjane cukup,” ucapnya. Namun, karena di dua sekolahan itu memiliki manajemen kepala sekolah dan segmentasi muridnya yang berbeda.

Sedangkan, Koordinator Forum Pemantau Independen Kota Jogja, Baharuddin Kamba berharap tidak ada lagi siswa yang belajar di pos kamling seperti halnya siswa kelas enam tersebut. “Semoga enggak ada lagi siswa dengan kondisi seperti ini,” ucapnya. (wia/pra)