RADAR JOGJA – Pemprov DIJ pun terus berusaha melakukan modifikasi Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan supaya tetap bisa digunakan.

Tapi praktik pembuangan sampah di tepi jalan, membuat anak sekolah di sekitar TPST Piyungan harus memutar hingga 10 kilometer.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIJ Sutarto menyebut, TPST Piyungan telah mengalami kelebihan kapasitas sejak 2014. Saat ini, TPST dengan luas hanya 12,5 hektar ini harus menampung 600 ton sampah dari Sleman, Bantul, dan Kota Jogja tiap harinya. Solusinya Pemprov DIJ berencana untuk melakukan perluasan area penampungan sampah dan pembuatan terasering. Pembangunan terasering dilakukan di area TPST Piyungan juga pengadaan lahan baru. “Sekarang sudah dipersiapkan tanah seluas 1,9 hektare,” ujarnya, Minggu  (9/2).

Dengan konsep itu, tumpukan sampah akan ditata dan dibentuk bertingkat secara terasering. Dengan adanya pemadatan sampah, maka TPST akan memiliki ruang baru yang bisa difungiskan untuk menampung lebih banyak sampah.  “Harapannya dapat mengefektifkan, supaya sampai 2022 sampah masih bisa tertampung,” terangnya.

Pembuatan terasering direncanakan terlaksana pada 2020 ini. Sedangkan pada 2021, pihaknya berupaya mengadakan perluasan lahan sebanyak enam hektar di sekitar lokasi terasering guna meningkatakan kapasitas penampungan. “Untuk rencana pembuatan terasering ini, sudah berkoordinasi dengan Dinas PUPESDM (Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral) DIJ,”paparnya.

Dia melanjutkan, tingginya pola konsumsi masyarakat menjadi salah satu penyebab masifnya produksi sampah di DIJ. Bahkan saat musim liburan, volume sampah di TPST Piyungan mencapai hingga 700 ton per hari. Sutarto mengatakan, pihaknya telah gencar mensosialisasikan tentang pengolahan sampah rumah tangga secara mandiri. “Kesadaran masyarakat setidaknya harus terbangun, tapi memang butuh waktu,” ungkapnya.

Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, selain terasering, pada 2020 Pemrov juga akan membangun jalur jalan tambahan di sepanjang jalan yang sudah. Ini dilakukan agar proses bongkar muat truk sampah yang ada di TPST Piyungan tak terganggu, sehingga antrean kendaraan bisa dikurangi. “Target pengerjaan tahun ini. Kami akan bangun jalan sejajar dengan jalan sekarang, sehingga tidak saling mengganggu antara proses penurunan dan pengolahan,” jelasnya.

Padahal praktik membuang sampah di pinggir jalan masih dering ditemui di TPST Piyungan. Juru bicara warga TPST Piyungan Maryono mengatakan, aksi pembuangan sampah yang dilakukan di tepi jalan. Hal tersebut mengakibatkan warga masyarakat terganggu. “Kalau hujan, anak sekolah harus memutar karena takut. Harusnya jarak cuma empat kilometer jadi 10 kilometer,” ungkapnya.

Dari pantauan Radar Jogja, beberapa alat berat terparkir di tepi dermaga.  Operator alat berat, Suprapto menjelaskan jika antrean panjang beberapa hari lalu diakibatkan minimnya alat berat yang beroperasi. “Agak sulit karena alat berat yang beroperasi hanya dua. Lainnya baru dikalibrasi atau diservis,” jelasnya. (cr2/tor/pra)