RADAR JOGJA – Wabah virus korona yang melanda Tiongkok ternyata juga berdampak melonjaknya harga bawang putih di sejumlah daerah, termasuk Jogja. Pantauan Radar Jogja di Pasar Beringharjo, Minggu (9/2), harga bawang putih eceran mencapai kisaran Rp 60 ribu kating biasa hingga Rp 65 ribu per kilogram kating super. Dari harga stabil Rp 25 ribu sampai maksimal Rp 30 ribu.

Salah seorang pedagang Sutinah mengatakan, kenaikan terjadi sejak sepekan lalu, lebih tepatnya setelah merebaknya virus korona. “Wingi seminggunan (kemarin satu mingguan, Red) naik karena wabah korona di Tiongkok,” katanya di sela melayani pelanggannya.

Meski diakui harga sudah mulai turun Rp 5 ribu per kilogram masing-masing harga jenis kating biasa dan super sejak. Namun Mbah Jiti, sapaannya, sudah telanjur menyimpan 30 karung bawang putih. Per karung terisi 20 kilogram. Tetapi perempuan 76 tahun ini tetap mengikuti harga pasar, meski telah menyimpan dalam jumlah banyak.

Sebelumnya dia membeli harga dari distributor dengan harga yang sudah naik. “Saya mung manut (saya hanya ikut saja, Red). Menyesuaikan pembeli nek rugi njih rugi kathah (kalau rugi ya rugi banyak, Red),” ujarnya.

Berbeda dengan pedagang lain, Muji mengatakan tidak berani membeli dalam jumlah banyak. Sebab masih belum stabilnya harga bawang putih tersebut. “Harganya nggak stabil, nggak berani ambil banyak,” tuturnya.

Dia menambahkan selama ada wabah korona yang melanda Tiongkok, Pasar Beringharjo hanya dibagikan 10 ton bawang putih dari distributor. Minimal dia hanya bisa mengambil 25 kilogram dari biasanya 50 kg. “Ini saja nggak komanan, dan jualnya susah,”  tambahnya.

Susahnya itu terjadi dari pelanggannya. Ketika biasanya membeli ecer seperempat kilogram dengan harga Rp 8 ribu menjadi Rp 14 ribu. “Saya cuma nglayani, nawar terus. Mereka nggak jadi beli,” ucapnya.

Pedagang lain, Endang Mujiwati mengatakan, harga bawang putih kemarin (9/2) masih di angka Rp 50 ribu per kg untuk jenis bawang kating. Kemudian harga bawang putih jenis sinco mencapai Rp 46 ribu. “Harga itu sudah sejak tiga hari lalu,” jelasnya.

Meskipun mengalami penurunan, Endang menyebutkan bahwa penurunan tersebut sangat pelan-pelan dibanding kenaikan. “Rabu (5/2) harga mencapai Rp 55 ribu per kilo untuk jenis kating. Itu paling tinggi,”  katanya.

Sementara itu ketika dikonfirmasi, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Jogja Yunianto Dwi Sutono mengakui, kenaikan harga bawang putih di Jogja dipicu oleh wabah virus korona di Tiongkok. Seperti daerah lain di Indonesia, Jogja juga menggantungkan pasokan bawang putih dari Negeri Tirai Bambu itu. “Iya karena bawang putih kita impor dari Tiongkok,” katanya saat dihubungi Minggu (9/2).

Yunianto menjelaskan, kebijakan pemerintah menghentikan impor bawang putih yang mencapai 90 persen itu sebagai dampak dari mewabahnya virus korona. Meski demikian, sambil menunggu kebijakan pemerintah pusat, kebutuhan bawang putih sementara akan mengandalkan petani domestik. “Memang kalau dikalkulasi akan sulit memenuhi kebutuhan masyarakat,” jelasnya.

Petani domestik didatangkan dari Kulonprogo dan Wonosobo. Pemasokan dari pasar lokal tengah berjalan. Namun, menurutnya, rata-rata konsumen tidak menyukai karena kualitas bawang putih yang dihasilkan. “Karena kecil-kecil dan aromanya menyengat,” bebernya.

Belum dapat diprediksi kapan impor bawang putih itu akan dibuka kembali untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok. Justru, lanjutnya,  ada kebijakan pemerintah bisa mengalihkan impor dari negara lain. Katanya, melalui koordinasi dengan Pemprov DIJ saat ini pemerintah pusat sedang berupaya impor bawang putih dari Iran atau Mesir untuk menggantikan bawang putih dari Tiongkok. (wia/cr1/laz)