RADAR JOGJA – Selesai diperbaiki, gedung cagar budaya Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, diperbaiki lagi. Gara-garanya, proyek revitalisasi tahun anggaran 2019 yang menelan dana Rp 925 juta itu menjadi temuan Tim Admistrasi Pembangunan (AP) Setda Kabupaten Gunungkidul.

Sejumlah pekerja Senin (10/2) terlihat sibuk tambal sulam pada bagian atap. Garis-garis plafon didempul, sehingga sambungan kurang rapi tersamarkan. Bahkan informasinya akan dilakukan pengecatan ulang pada bagian tiang.

Kepala Bagian (Kabag) Administrasi Pembangunan (AP) Setda Kabupaten Gunungkidul Hermawan Yustianto ketika dikonfirmasi mengatakan, rekomendasikan rehab ulang Bangsal Sewokoprojo sudah turun. Surat rekomendasi muncul menindaklanjuti hasil monitoring beberapa waktu lalu. “Monitoring menghasilkan sejumlah poin dan telah kami kirim ke pihak terkait,” kata Hermawan saat dihubungi kemarin.

Secara garis besar pada masa pemeliharaan ini, Tim AP merekomendasikan perbaikan ulang Bangsal Sewokoprojo.  Meski demikian, terkait perbaikan akan dikoordinasikan terlebih dahulu dengan diinas pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR).

“Agar perbaikannya nanti sesuai dengan yang diharapkan, paling tidak mendekati. Jangan sampai perbaikan itu mung disawang wangun (hanya bagus ketika dilihat), tapi sebenarnya kurang pas, ” ujarnya.

Terutama plafon lepas, kemudian sambungan dirapikan dan pengecatan. Namun lebih detailnya pada Rabu mendatang akan turun ke lapangan bersama pihak PUPR. Karena secara teknis organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, kontruksi itu memiliki kemampuan untuk membantu dalam perbaikan. “Sebenarnya pengecekan bersama PUPR diagendakan minggu lalu, namun kebetulan ada rapat sehingga dijadawalkan ulang,” ucapnya.

Disinggung mengenai sejumlah pekerja yang sudah beraktivitas melakukan perbaikan, mantan sekretaris Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan asset daerah (DPPKAD) Kabupaten Gunungkidul ini tidak mempersoalkan. “Sebanrnya tidak apa-apa diperbaiki, namun kami melihat bagaimana hasil perbaikan mereka seperti apa. Yang penting pengerjaan rapi,” terangnya.

Seharusnya, lanjut Hermawan, pihak rekanan sudah bisa menerjemahkan surat rekomendasi dari Tim AP. Akan tetapi jika setelah dua kali diperbaiki namun tetap saja tidak enak dilihat, maka harus diperbaiki ulang.

“Untuk semantara Bangsal Sewokoprojo tidak digunakan dulu sampai perbaikan selesai. Tapi ini masih masa pemeliharaan sampai Juni,” ungkapnya.

Sementara itu, pemerhati sejarah Gunungkidul Marcus Yuwono berharap perbaikan kali kedua ini dilakukan dengan baik. Selain menjadi ikon daerah, Bangsal Sewokoprojo merupakan cagar budaya. “Menurut saya, pengerjaan harus dilakukan dengan maksimal,” katanya. (gun/laz)