RADAR JOGJA – Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pusat Dwikorita Karnawati meninjau Yogyakarta International Airport (YIA) di Temon, Kulonprogo, Senin (10/2). BMKG memastikan resolusi, akurasi, dan presisi semua peralatan yang terpasang di YIA dalam kondisi siap sebelum full operation 29 Maret 2020.

“BMKG sejak awal desain YIA sudah dilibatkan dalam hal pengukuran, terutama untuk pemperhitungkan potensi gempa dan tsunami. Sekarang desain itu sudah jadi, maka kami perlu memasang sistem monitoring sekaligus peringatan dini tsunami agar bandara ini benar-benar terpantau dan termitigasi,” ucap Dwikorita.

Kepala BMKG Pusat Dwikorita Karnawati. (HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA)

Ditegaskan, pemasangan sistem monitoring dan peringatan dini tsunami harus dituntaskan sebelum operasional penuh Maret mendatang. “Hari ini kami ke sini untuk cek, apakah peralatan ini sudah dapat terpasang pada titik yang tepat. Sebab titik koordinat dan ketinggiannya juga harus tepat,” tandasnya.

Dijelaskan, seiring progres pembangunan YIA yang hampir selesai, peralatan yang semula sudah terpasang akan dipindahkan ke lokasi yang permanen. Berikut peralatan harus dilelakkan di titik mana, pada lantai mana, dan dinding yang mana.

Dikatakan, peringatan bencana itu harus transparan. Semua harus bisa melihat, termasuk informasi gempa harus langsung terbaca dari layar, berapa kekuatannya dan berpotensi tsunami atau tidak. “Dengan begitu bisa dilakukan pengamanan-pengamanan lebih cepat. Tujuannya itu,” jelas mantan rektor UGM ini.

Ditambahkan, khusus untuk gempa bumi YIA dilengkapi sistem remote control sehingga jika di YIA rusak monitoring tetap bisa dilakukan. Dengan kata lain tidak tergantung alat. “Jadi ada remote control-nya dari Kemayoran Jakarta, meskipun bangunan di sini sudah didesain tahan gempa dengan kekuatan magnitudo 8,8 SR,”  ungkapnya.

Menurutnya, alat yang terpasang di YIA termasuk yang terlengkap. Backup berlapis diaplikasikan dengan teknologi yang ada. Sistem juga melibatkan Angkasa Pura (AP) I sebagai otoritas pengelola YIA, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ, dan BPBD Kulonprogo. “Backup berlapis ini yang disebut contingency plan. Semua harus terintegrasi dalam suatu sistem,” ujarnya.

Peralatan yang dipasang BMKG di YIA bukan hanya monitoring gempa bumi dan tsunami, tetapi juga peralatan untuk mendeteksi abu vulkanik. Kendati jarak antara Gunung Merapi dengan YIA cukup jauh. Sebab, abu vulkanik bisa terbawa angin dan membahayakan mesin pesawat.

“Kami juga pasang alat deteksi wind share, jika ada cross wind melintas runway itu harus ditutup sementara. Alat deteksinya kami siapkan melengkapi automatic weather of subversion system (AWOS) pemandu pesawat saat take off dan landing,” katanya.

BMKG juga memasang radar khusus untuk runway yang fokus memantau area bandara. Di Jogjakarta sebetulnya sudah ada radar di Sleman dan jangkauannya juga sampai YIA. Namun BMKG tetap akan memasang radar khusus di lingkup bandara untuk lebih fokus, akurasi dan presisi.

Menurutnya, kelengkapan YIA terbilang paling lengkap, setara dengan Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Pihaknya memastikan, sebelum full operation semua peralatan telah dibereskan. Terlebih AWOS sudah terpasang sejak awal, sistem peringatan dini tsunami dan gempa juga sudah terpasang jauh hari.

“Kami hanya tinggal memindahkan ke lokasi permanen, dan mensimulasikan peringatan dini yang paling tepat, apakah butuh sirine atau tidak. Sebab sirine kadang juga justru membuat panik, namun semua harus disimulasikan, resolusi, akurasi dan presisinya juga akan kami tingkatkan,” ujarnya.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas IV Sleman BMKG Reni Kraningtyas menambahkan, bulan Januari-Februari 2020 merupakan puncak musim hujan di wilayah DIJ-Jateng. Sementara untuk banjir menjadi ranah BPBD. Pihaknya hanya memberikan peringatan dini cuaca ekstrem agar BPBD dan PUPR bisa melakukan antisipasi dini.

“Di Jogja sudah ada radar cuaca, kami juga sudah ada data zona-zona dan itu kami koordinasikan dengan BPBD setempat, termasuk titik-titik rawan longsor. Kalau bandara ini aman dari longsor karena berada di wilayah datar,”  tambahnya. (tom/laz)