RADAR JOGJA – Polres Gunungkidul berhasil mengungkap kasus aborsi. Seorang prempuan berinisial AS, 23, warga Desa Sidorejo, Tepus, ditetapkan sebagai tersangka. Terduga pembunuh darah daging sendiri itu dijerat dengan Pasal 194 UU RI Tahun 2006 tentang Kesehatan.

Kasat Reskrim Polres Gunungkidul AKP Anak Agung Putra Dwipayana menyebutkan, terungkapnya kasus aborsi berawal dari penemuan bungkusan berisi bercak darah kain sprei dan bungkus obat penggugur kandungan di sebuah SPBU, Jalan Baron, Desa Duwet, Wonosari, 31 Januari lalu. Saat itu, bungkusan berada di dekat ATM dalam kondisi dikerubuti lalat, sehingga menarik perhatian masyarakat.

Berbekal bukti-bukti yang ada, petugas mendapatkan titik terang dari keterangan saksi inisial SA, tak lain adalah pacar tersangka.  Muncul pengakuan barang bukti yang ditemukan di dekat ATM itu merupakan milik tersangka.

Setelah itu, kepolisian mencari keberadan pelaku. Diperoleh kabar, tersangka sedang menjalani perawatan medis di sebuah klinik wilayah Wonosari. Setelah ‘persembunyian’ ditemukan dan kondisi kesehatan tersangka membaik, lalu dimintai keterangan.

“Tersangka mengakui perbuatannya. Bahkan sebelum heboh, ternyata pelaku dan temannya sempat berniat mengambil bungkusan bercak darah itu di SPBU. Namun lantaran ramai orang berkerumun, kemudian pulang ke rumah,” ungkap Anak Agung kepada wartawan di Mapolres Gunungkidul, Selasa (11/2).

Pengguguran kandungan terpaksa dilakukan karena hubungan asmara dengan pacar tidak mendapat restu orang tua pelaku. Di sisi lain, tersangka diam-diam telah berbadan dua dengan usia janin enam bulan. Sang pacar bersedia bertanggung jawab, namun si perempuan memilih jalan lain.

Masih menurut keterangan pelaku, tindakan aborsi menggunakan obat keras penggugur kandungan yang dibeli secara online seharga Rp 1,5 juta. Setelah mendapatkan obat, pelaku meminumnya di kontrakan wilayah Jalan Affandi, Sleman. “Pelaku meminta uang kepada orang tuanya Rp 1,5 juta dengan alasan untuk memperbaiki motor,” terangnya.

Pelaku bertindak sendiri tanpa persetujuan pacarnya. Lalu janin dikubur di pemakaman tempat tinggal pelaku. Dari tangan tersangka, polisi menyita kain sprei, strip bungkus obat penggugur kandungan, kartu berobat, foto USG, platik, pembalut obat spasminal, dan gawai.

Pelaku dijerat dengan Pasal 194 UU RI Tahun 2006 tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman penjara paling lama 10 tahun dam denda paling banyak Rp 1 miliar. Atau Pasal 346 KUHP dengan sengaja menggugurkan kandungan yang ancaman hukumannya empat tahun penjara. (gun/laz)