RADAR JOGJA – Penanganan bahaya penyakit antraks di Gunungkidul terus menunjukkan sinyal positif. Mampu melokalisasi penyebaran spora dari hewan ternak mati mendadak, sejumlah wilayah endemis penyakit berbahaya dinyatakan aman.

Kepala Seksi Kesehatan hewan dan Veteriner, Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul drh Retno Widiastuti mengatakan, kabar baik ini terlihat dari hasil vaksinasi dan antibiotik terhadap ribuan hewan ternak. “20 hari setelah dilakukan vaksinasi, ternyata tidak ada kematian ternak di lokasi terjangkit antraks. Itu artinya, lalu lintas hewan ternak dibuka dan diperbolehkan keluar,” katanya saat ditemui di kantor Pemkab Gunungkidul, Rabu (12/2).

Namun demikian, lanjut Retno, khusus untuk lokasi tanah positif antraks ke depan kembali dilakukan pengguyuran formalin dan betonisasi. Selain itu, pihaknya sudah memberikan antibiotik sebanyak 8.990 ekor hewan ternak. Untuk vaksinasi sebanyak 1.451 sapi dan kambing 3.331  ekor.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul Bambang Wisnu Broto membenarkan, laporan mulai Desember 2019 hingga 11 Februari lalu total 116 ekor sapi dan 52 ekor kambing mati.

“Positif antraks tiga ekor sapi dan tiga ekor kambing di Ngrejek Wetan dan Kulon, Desa Gombang, Ponjong. Lalu Padukuhan Jenglot, Desa Pucanganom, Semanu,” kata Bambang.

Dia mengungkapkan, data kematian hewan ternak memang meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pemicunya keracunan pakan ternak terkontaminasi pupuk atau pestisida. Selain itu, penyebab lain ektoparasit, diare, dan kekurangan susu.

Kematian hewan ternak ini tergolong kecil jika dibandingkan populasi hewan ternak yang mencapai ratusan ribu ekor. Adapun rinciannya sapi 153.363 ekor, kambing 1888.160 ekor, kambing PE 864 ekor, dan domba 11.002 ekor.

“Kami bersyukur kesadaran masyarakat melaporkan hewan ternak mati mendadak saat ini meningkat. Berbeda dengan sebelumnya, tidak dilaporkan namun justru dipurak atau dimakan,” ungkapnya.

Menurutnya, kesadaran masyarakat karena munculnya penyakit antrak, sehingga ramai-ramai melapor jika mendapati hewan ternak mati mendadak. “Kami akan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pakan ternak, sehingga keracunan dari pakan bisa diminimalisasi,” terangnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul Dewi Irawati mengatakan, kondisi 30 orang positif antraks telah membaik. Hingga sekarang tidak ada penambahan pasien kasus antraks. “Semua sudah membaik, namun tetap dilakukan pemantauan. Yakni wilayah Padukuhan Ngrejek, Desa Gombang, Ponjong,” kata Dewi. (gun/laz)