RADAR JOGJA – Salah satu pekerjaan fisik yang gagal dirampungkan pada 2019 adalah rehabilitasi Pasar Prawirotaman. Menggunakan anggaran dari APBN sebesar Rp 67 miliar, awalnya rehabilitasi Pasar Prawirotaman ditargetkan rampung akhir tahun lalu. Tapi sampai saat ini belum bisa ditempati.

Alasannya saat proses lelang terkendala dengan jaringan ayanan pengadaan secara elektronik (LPSE) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Dampaknya para pedagang harus lebih lama berjualan di lapak sementara. Mereka mulai gelisah.

Ratmini salah satunya. Pedagang di Pasar Prawirotaman itu mengatakan, banyak pelanggannya yang pindah ke Pasar Pujo, yang berada Pojok Beteng Wetan. “Kalau ke sini (relokasi pasar sementara) kejauhan, biasanya mereka jalan dekat dengan pasar (Prawirotaman) saja,” katanya ditemui di lapak sementara, Rabu (12/2).

Mayoritas pelanggannya adalah asisten rumah tangga. Setiap hari, selalu mendatangi lapaknya untuk belanja sayuran. Namun paska relokasi ke lapak sementara pelanggan-pelanggan itu tidak pernah muncul lagi. “Langgananku do ilang saiki,ganti pelanggan dari kampung,” ujarnya sambil menambahkan tak banyak warga kampung yang berbelanja di lokasi relokasi.

Perempuan 41 tahun itu mengaku lebih merasa nyaman di pasar lama. Karena di Pasar Prawirotaman yang lama berada dalam komplek hotel-hotel. “Ya kadang-kadang ada dari tamu juga beli sayuran di saya. Tapi sekarang saya tidak lihat lagi, mungkin malas jalan kaki karena jauh,” tambahnya.

Di lokasi relokasi sementara, lapaknya diperkecil. Misalnya di pasar lama dia menjual berbagai macam sayuran, buah, beras, maupun hasil-hasil bumi. Di lapak sementara ini dia tidak mampu membawa semua barang dagangannya. “Yang jelas dagangannya enggak bisa bawa banyak. Sekarang nggak di-display karena enggak ada tempat cuma kalau ada pesenan saja,” jelasnya.

Sementara, pedagang lain Siti Solihah justru mengaku lebih nyaman di lapak sementara. Meski dengan fasilitas seadanya, banyak pelanggan baru yang datang. Dengan kenaikan pengunjung ini otomatis omset juga ikut naik. “Agak bagus di sini ada kenaikan. Semakin meningkat pelanggan saya rata-rata masyarakat sekitar,” kata pedagang serba plastik itu.

Omset selama menempati barak sementara sejak Maret 2019 ini bisa mencapai antara Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta. Dibandingkan di pasar lama hanya Rp 600 – Rp 800 ribu. “Ya alhamdulillah mungkin ini faktor kebetulan saja,” imbuhnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jogja, Yunianto Dwi Sutono mengatakan proyek besar ini merupakan bantuan dari dana alokasi umum Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI sebesar Rp 76 miliar. Direncanakan akan diresmikan Juli 2020. “Kami hanya user, tapi kami ingin lebih cepat jadi kan alhamdulillah. Yang jelas paling penting adalah pedagang kita bisa aman, nyaman dan bisa tercukupi,” katanya.

Rencana pasar tersebut akan dibangun empat lantai dan satu basement. Lantai 1-3 untuk menempatkan existing pedagang yang jumlahnya sekitar 619 pedagang. Los – losnya pun dipastikan seluruh pedagang akan menempati semua. “Jangan ada (pedagang) yang mempertanyakan tempat los nya, karena pasti kebagian,” tegasnya. (wia/pra)