RADAR JOGJA – Dikembangkan sejak 2013, Rekam Usahatani Gadjah mada (Rektanigama) dibuat karena tidak adanya pencatatan usaha dari petani. Hanya mengandalkan ingatan, pencatatan usaha tani (farm record) penting dilakukan sebagai dasar pengambilan keputusan para petani.

Bersama timnya, dosen Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Irham ingin membantu petani dalam pengelolaan usaha tani yang smart, rasional, berbasis data akurat, dan berkemajuan. Aplikasi berbasis website, masih dalam tahap penyempurnaan untuk menjadi aplikasi yang user-friendly. Tidak hanya bermanfaat pada jenis usaha tani komersil, Rektanigama bisa digunakan untuk pertanian tipe subsisten. Baik sistem konvensional maupun usaha tani dengan sistem organik.

Pada usaha tani dengan sistem organik, pencatatan usaha tani bahkan menjadi aspek yang dipersyaratkan secara teknis untuk keperluan sertifikasi, khususnya sertifikasi internasional. Selain itu, dari sisi produk, pencatatan usaha tani memberikan jaminan yang dapat menelusuri suatu komoditas, sehingga memberikan informasi yang memadai bagi konsumen. “Namun saat ini sulit ditemukan petani yang melakukan pencatatan pada usaha taninya dengan berbagai alasan,”  jelas Irham (11/2).

Menurut Irham, sistem farm record akan memberikan banyak manfaat bagi petani. Mulai dari mengetahui status keuangan, keuntungan, sumber pendapatan dan pengeluaran sampai dengan mengembangkan rencana produksi jangan pendek maupun panjang.

Sebelumnya, Rektanigama memiliki nama Rekam Usaha Pokniluh. Singkatan dari Kelompoktani, Petani dan Penyuluh berupa portal tabulasi data usaha tani dalam jaringan. Telah diujicobakan di Kulonprogo bekerjasama dengan Kantor Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (KP4K) Kulonprogo sejak 2015.

Menggantikan Pokniluh, Rektanigama lebih memiliki keunggulan. Tidak hanya mencatat input usaha tani pada akhir pengelolaan, namun juga mencatat aktivitas harian dengan rinci. Mengedepankan asas kemudahan dan kepraktisan.

Selain itu, kondisi sosial dan budaya petani juga menjadi pertimbangan utama bagi tim Rektanigama dalam mencari cara sistem pencatatan yang paling mudah dilakukan petani. “Tim ini terus berkomitmen agar aplikasi berbasis website Rektanigama mudah untuk diakses dan digunakan oleh petani,”  ungkap Irham.

Dalam perspektif makro, Rektanigama juga diharapkan bisa menjadi hub dalam penyediaan data pertanian yang valid, factual, dan accessable. Adanya data-data pertanian yang valid, faktual, dan komprehensif dapat digunakan sebagai salah satu alat dalam pengambilan kebijakan, baik di tingkat Iokal, regional, maupun nasional. Sehingga kebijakan-kebijakan yang dihasilkan betul-betul berbasis data yang berpihak pada petani dan kesejahteraan masyarakat.

Tim Rektanigama masih terus melakukan uji coba dalam pengembangan menuju kesempurnaan aplikasi. Penjaringan aspirasi petani, diskusi bersama stakeholder dan pengembang program, serta pengenalan produk menjadi aktivitas yang secara kontinyu dilakukan. (eno/laz)