RADAR JOGJA – Dari sekitar 191 paket lelang yang dilelangkan Bagian Layanan Pengadaan (BLP) Kota Jogja, tersisa empat paket yang gagal lelang. Tidak termasuk untuk renovasi SDN Bangunrejo 2 dan Pasar Prawirotaman.

Kepala BLP Kota Jogja Sukadrisman mengatakan, empat paket pekerjaan yang gagal lelang, yaitu pembangunan Taman Pintar Aquatik, Pagar Embung Giwangan, Sambungan Rumah dan Saluran Pembawa Kelurahan Klitren, serta Pengadaan Pemasangan ATCS Dinas Perhubungan (Dishub). “Ada gagalnya karena tidak disetujui oleh warga. Kalau kami lelangkan lagi waktu pelaksanaannya tidak cukup,” ujar Sukadarisman disela menunggu giliran sebagai saksi sidang lanjutan suap lelang proyek rehabilitasi SAH Soepomo Cs, di Pengadilan Negeri Tipikor dan Hubungan Industrial Jogjakarta, Rabu (12/2).

Aris, sapaanya, menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan gagal lelang tersebut. Seperti masalah eksternal. Mulai dari penyedia jasa tidak lulus administrasi, teknis maupun kualifikasi. Bahkan ada di antaranya yang tidak memasukkan penawaran. “Enggak tahu tidak tertarik atau bagaimana. Tapi masalah eksternal bukan internal,” jelasnya.

Untuk Pasar Prawirotaman, Aris menjelaskan yang melakukan lelang bukan dari BLP Kota Jogja. Tapi langsung dari pemerintah pusat. Karena anggaran pekerjaan juga langsung dari Kementrian PUPR.

Terkait paket pekerjaan SDN Bangunrejo 2, Aris menyebut bukan gagal lelang. Melainkan sudah ada pemenang tender. Namun menurut dia, karena tidak dilanjutkan di OPD pemilik paket, yaitu DPUPKP Kota Jogja dengan kontrak antara pejabat pembuat komitmen (PPK) dan penyedia atau pemborong yang menang tersebut, maka sempat tertunda. Sehingga paket pekerjaan tahun angaran 2019 dilelangkan lagi pada tahun anggaran 2020. “Hanya saja ini tidak ada kesepahaman, jadi itu bukan gagal lelang. Padahal sudah ada pemenang,” jelasnya.

Sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) BLP, paket yang sudah dilimpahkan guna diproses dan gagal,akan dikembalikan ke OPD terkait. Selanjutnya OPD yang akan menindaklanjuti apakah akan dilelang ulang atau berhenti tidak lelang. Akibat tidak ditindaklanjuti dengan kontrak akhirnya tidak ada pelaksanaan pekerjaan untuk sekolah inklusi tersebut. Namun, pada Januari 2020 sudah dilelangkan dan sudah ada pemenang. “Tidak bisa kami yang langsung melelangkan kembali. Karena waktu pelaksanaannya OPD yang tahu,” tambahnya.

Meskipun waktu itu ada sanggahan, tetapi masa sanggah SDN Bangunrejo 2 di luar batas waktu. Dalam memasukkan sanggahan itu, setelah limit masa sanggah berakhir. “Kalau masukkan sanggahan di luar masa sanggah itu hanya dianggap sebagai aduan. Sehingga tetep kami anggap menang wong sanggahannya sebagai aduan,” tuturnya.

Secara normarif prosedur proses pelelangan, dia menambahkan nama-nama paket pekerjaan akan terdaftar pada anggaran pelaksana. Lalu di-entry data paket tersebut di aplikasi sistem rencana umum pengadaan (SIRUP). Setelahnya akan masuk pada aplikasi Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) untuk paket yang dilelang. Kemudian OPD baru melimpahkan dalam bentuk hard file dengan dokumen-dokumen syarat lelangnya. “Jadi prosesnya setelah kami terima baru kami review dan lihat kelengkapan syarat serta dokumen-dokumennya,” tambahnya.

Kemudian dari BLP akan dilimpahkan ke Pokja agar dokumen tersebut betul-betul memenuhi standar tender. “Dari perencanaan sampai persiapan lelang itu sudah ketat,” paparnya.

Awal 2020 ini, dia mengaku sudah ada beberapa paket yang diproses tender dan sudah ada kontraknya. Meliputi security di beberapa OPD termasuk satu orang untuk intansi Satpol PP Kota Jogja. Dan lainnya adalah Cleaning Service serta SDN Bangunrejo 2 yang sudah selesai lelang. (wia/pra)