RADAR JOGJA – Kunjungan pada teras lantai 9 dan 10 Candi Borobudur akan dibatasi. Balai Konservasi Borobudur selaku UPT di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang bertanggung jawab sebagai site manager Candi Borobudur sebagai Warisan Dunia berencana membatasi untuk kunjungan umum, sunrise, dan sunset.

Pembatasan ini sudah dimulai pada Kamis (13/2) sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Pertimbangannya, gesekan alas kaki pengunjung dan pasir yang terbawa kaki dapat mengakibatkan keausan lantai tangga/selasar/undag/teras candi.

Berdasarkan kajian, analisa keausan batu lantai Candi Borobudur, ada kenaikan laju keausan sebesar 0,3 sentimeter setelah tahun 2003, di mana laju keausan saat itu 1,5 sentimeter.

”Monitoring periodik dilaksanakan secara rutin enam tahun sekali melalui penilaian atas pelaporan yang disusun oleh state party (pemerintah), yang akan dievaluasi oleh Badan Penasehat (Advisory Body) dan dibahas pada sidang komite warisan dunia (World Heritage Committee),” ujar Kepala Balai Konservasi Borobudur Tri Hartono dalam pers rilisnya, Jumat (14/2).

Dokumen laporan monitoring ini, lanjutnya, harus segera ditindaklanjuti dengan sungguh-sungguh oleh pengelola situs agar status warisan dunia tetap terjaga. ”Status sebagai warisan dunia menjadikan kelestarian Candi Borobudur menjadi perhatian seluruh dunia. Oleh karena itu hal-hal yang berkembang di situs warisan dunia akan menjadi sorotan sehingga harus dikelola dengan tepat,” jelasnya.

Seperti diketahui Candi Borobudur telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia (World Heritage) oleh UNESCO pada 1991 dengan nomor inventaris 592, bersama dengan Candi Mendut dan Pawon, dengan nama resmi Borobudur Temple Compounds.

Kompleks percandian ini memenuhi tiga kriteria Nilai Universal Luar Biasa atau Outstanding Universal Value (OUV) yaitu pada kriteria yakni sebagai monumen masterpiece yang luar biasa, sebagai monumen yang memiliki pengaruh perkembangan arsitektur dunia. Juga sebagai monumen yang secara harmonis mengawinkan konsep Buddhisme dengan seni asli nenek moyang bangsa Indonesia.

Cagar Budaya yang menyandang status sebagai Warisan Dunia dipantau oleh UNESCO agar tetap terjaga nilai penting atau statement OUV-nya. Pemantauan atau monitoring dilakukan melalui dua mekanisme, yaitu monitoring periodik dan monitoring reaktif. Monitoring periodik dilaksanakan secara rutin enam tahun. Sementara itu, monitoring reaktif dilaksanakan pada situs yang terindikasi adanya permasalahan yang dapat mengancam OUV situs, keadaannya terganggu atau terancam kelestariannya, hendak atau sudah dimasukkan ke dalam Warisan dalam bahaya (World Heritage in Danger) atau dipertimbangkan dihapus dari Daftar Warisan Dunia (World Heritage delisting). (ila)