RADAR JOGJA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah serius menggembangkan kawasan di sekitar Candi Borobudur. Desa-desa yang berada di lokasi candi Buddha terbesar di dunia tersebut dikembangkan untuk menjadi destinasi wisata.

Pengembangan kawasan Candi Borobudur membutuhkan dukungan anggaran. Pemprov Jateng sudah menyiapkan anggaran untuk digelontorkan ke desa-desa wisata.

Kepala Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah Sinung Nugroho Rachmadi menjelaskan, pihaknya telah merumuskan anggaran khusus untuk pengembangan desa wisata di sekitar Candi Borobudur di Kabupaten Magelang. Sebagai kawasan kategori desa wisata maju, ujarnya, akan digelontorkan dana Rp 1 miliar.

Langkah ini demi memberikan alternatif destinasi wisata di sekitar candi. ”Kami fokus pada pengembangan desa wisata. Kebijakan yang akan kami ambil tidak memberi beban terlalu besar kepada Borobudur. Tapi, justru memberikan alternatif pilihan di sekitar Borobudur untuk memperpanjang lama tinggal. Yang sudah ada harus segera digencarkan,” jelasnya.

Selain desa wisata di sekitar Candi Borobudur, saat ini sudah ada desa wisata lain yang telah diverifikasi. Bahkan, ada desa wisata lain yang juga akan mendapatkan dana pengembangan. Terdapat seratus desa wisata yang sudah diverifikasi dari 353 desa wisata di Jateng.

”Desa wisata rintisan Rp 100 juta. Intermediate Rp 500 juta. Sudah maju Rp 1 miliar,” jelasnya.

Disporapar berusaha menata tiap desa wisata agar saling melengkapi satu sama lain. ”Jangan sampai pengembangan desa wisata jadi latah. Di sini waterpark, di sana juga waterpark. Sukses di satu desa, bukan berarti bisa sukses di desa lain. Yang lain bisa support. Bisa kuliner, penginapan,” jelasnya.

Sinung mengibaratkan pengembangan desa wisata seperti tembang macapat. Jika macapat menggambarkan fase kehidupan, desa wisata mesti memenuhi kebutuhan wisata di tiap fase perjalanan wisatawan. ”Mulai dari maskumambang, mijil, sampai pucung. Kita akan membangun itu berbasis kultural,” jelasnya.

Salah satu pengembangan telah dilakukan di Dusun Bejen, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur. Dusun tersebut terletak di pertemuan Sungai Elo dan Sungai Progo.

”Di situ ada penginapan dengan suasana Jawa. Di sana akan dibangun perpustakaan. Masyarakat desa yang akan mengelola,” jelasnya.

Sinung juga berharap pengembangan tidak berhenti di tingkat pemerintah provinsi. ”Dalam kurun waktu tidak terlalu lama, akan kita kembangkan lagi pada desa yang lain. Harapannya dari APBD provinsi memberikan dorongan kepada APBD kabupaten, memberikan pendampingan. Bukan sekadar penetapan saja,” jelasnya. (asa/amd)