RADAR JOGJA – Mencuatnya kasus penganiayaan yang menimpa CA, 16,  siswi SMP Muhammadiyah Butuh, Purworejo, berawal dari unggahan video yang dilakukan perekam adegan bernisial F. Unggahan itu pun diminta oleh salah seorang pelaku.

“Saya ngambil gambar disuruh. Dari situ terus diminta untuk diunggah. Saya tidak tahu akan seperti ini,” kata F saat memberikan keterangan didampingi Kepala SMP Muhammadiyah Butuh Ahmad kepada wartawan, Kamis (13/2).

Diungkapkan, jika saat itu sedang ada pergantian mata pelajaran. Di mana dia berada di kelas 8 dan tidur. Dirinya dibangunkan oleh para pelaku untuk merekam kegiatan itu.  “Saya capek jalan karena motornya kehabisan bensin. Terus tidur di dalam kelas 8 itu,”  tambah F.

F mengaku dirinya memang menjadikan rekaman gambar itu sebagai status WhatsApp-nya dan bisa dilihat banyak orang. Dia sempat mengingatkan akan dampak dari video itu, namun oleh pelaku dijawab jika status itu bisa diprivat.

Kepala SMP Muhammadiyah Butuh Ahmad mengungkapkan, perekaman dilakukan Selasa (11/2). Dan kasus itu mencuat sehari setelahnya, dia mengetahui adanya kejadian karena anak-anak telah dibawa ke Polsek Butuh untuk dimintai keterangan. “Ini memang menjadi pembelajaran bagi kami,” kata Ahmad.

Dijelaskan Ahmad, jika ketiga pelaku penganiayaan terhadap CA merupakan anak pindahan dari sekolah lain. Satu orang berasal dari luar kota, sementara dua lainnya dari sekolah negeri di Kecamatan Butuh. “Selama ini ketiga anak itu memang bermasalah. Ada saja perilaku yang menyimpang,” kata Ahmad.

Dia menyebut ada hal-hal negatif yang dilakukan anak, seperti usil dengan temannya. Membolos ataupun lompat pagar untuk kembali masuk ke sekolah. “Sebenarnya kita itu lakukan pengawasan dengan ketat. Pagar sekolah ditutup saat pelajaran dimulai. Harapannya anak tidak ada yang keluar sekolah untuk menjaga hal yang tidak baik,”  tuturnya.

Namun, pengetatan itu tidak berjalan dengan baik. Karena berbagai cara dilakukan anak-anak nakal itu untuk keluar sekolah. Seperti menjebol pintu atau merusak penutup seng yang dipasang. “Kami itu tidak bisa menolak siswa. Kami di pinggiran ini empot-empotan (kesulitan) mendapatkan murid. Dan kalau ada yang pindah, ya kami terima,” tambah Ahmad.

Meski sedikit longgar, Ahmad mengaku jika sekolah terpaksa mengeluarkan siswa. Pihaknya juga menyatakan tidak menutup kemungkinan untuk mengeluarkan ketiga siswanya dari sekolah karena terlibat penganiayaan. “Sekarang kan ada proses mediasi. Anak-anak (pelaku) juga sudah kelas tiga, kita lihat prosesnya nanti,” tuturnya.  (udi/laz)