RADAR JOGJA – Kondisi memprihatinkan dialami Kasih, 48, warga Polaman, Triwidadi, Pajangan, Bantul. Ia mengalami depresi dan lumpuh. Karena keterbatasan eknomi, Kasih terpaksa enam tahun hidup di emperan rumahnya yang  bisa dibilang tidak layak huni.

Setiap hari, Kasih tidur di emperan belakang bangunan itu. Tanpa ada dinding penyekat. Kalau hujan turun, hanya bentangan terpal yang digunakan untuk menghalau air. Hawa dingin malam menjadi “teman” kesehariannya.

“Ya begini kondisinya. Setiap malam tak ada lampu penerangan,”  ungkap Srimurti, 65, kakak Kasih, Minggu (16/2). Srimurti dengan Kasih saudara satu ibu namun beda ayah. Srimurti adalah orang terdekat Kasih. Bahkan saat Kasih kecil, Srimurti yang merawatnya.

Kepada Radar Jogja Srimurti menjelaskan, tidur di emperan merupakan kemauan Kasih. Pasca mengalami depresi, dia ingin menyendiri. Dia tak ingin keramaian dan tak ingin penerangan. Sebab, beberapa tahun lalu dia mendapat pengalaman buruk.

Diketahui dia pernah menggelandang di Pasar Bantul hingga dua kali dihamili orang tak bertanggung jawab. Kondisi itu menyebabkan ia semakin depresi hingga kecelakaan menimpanya. Dia tertabrak kendaraan dan menyebabkan lumpuh.

Sempat dirawat di RS Sardjito dan RSJ Grhasia Pakem, Sleman. Namun, depresinya semakin parah. “Terkadang ngamuk. Emosi, kadang juga ketakutan,” tutur Sri.

Sri mengaku prihatin dengan kondisi adiknya. Berbagai cara sudah dilakukan untuk membujuk agar Kasih mau tinggal di rumah Sri yang bersebelahan dengan bangunan tak layak huni itu. Tapi, Kasih selalu menolak.

Hidup pas-pasan menjadikan Sri dan suaminya, Poniman, 71 tak bisa berbuat banyak untuk membuatkan tempat layak bagi Kasih. Penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Dia hanya mampu memberikan makan sembari merawat Kasih.

Kisah Kasih ini pun sampai ke telinga Bupati Bantul Suharsono. Saat momentum Hari Pers Nasional (HPN), bupati datang dan menemui Kasih. Lalu, bersama Forum Pewarta Bantul, Komunitas Peduli Dhuafa, dan Karang Taruna sekitar membuatkan rumah layak huni  untuk Kasih.

Bupati Suharsono juga memberikan perhatian terkait kependudukan. Kasih yang tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP), segera dibuatkan. Pihaknya telah menghubungi Disdukcapil Bantul. “Harapannya ketika ada KTP akan lebih mudah menjangkau akses kesehatan,” ungkapnya. (mel/laz)