RADAR JOGJA – Malam diputuskannya perubahan nama Kadipaten Brengkelan menjadi Kadipaten Purworejo diperingati rutin setiap Sabtu Legi di Pendapa Rumah Dinas Bupati Purworejo. Kegiatan ini sudah digelar rutin selama setahun terakhir.

Acara dikemas dengan menyuguhkan tari-tarian, wayang kolaborasi, dan sebagainya. Khusus Sabtu (15/2) lalu, kemasan acara agak berbeda. Acara dikemas berkaitan dengan nuansa bulan berdirinya Kabupaten Purworejo.

Ada beberapa sajian spesial yang ditampilkan dalam penyelenggaran Setu Legi kemarin. Di antaranya, menyuguhkan gedhing ladrang pariwisata slendro 9, ayak-ayak slendro 9 (Sala), dan srepeg slendro 9 (Sala).

“Usai gending dipersembahkan Beksan Sekar Pudyastuti dan Beksan Sugriwa Subali,” kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Dinkominfo) Purworejo Stephanus Aan Isa.

Menurutnya kedua tari beksan itu memiliki nilai filosofi. Beksan Sekar Pudyastuti memuat pesan luhur yang terwakili dengan gerakan lemah lembut, tenang, dan anggun. Gerakan itu merupakan manifestasi puji syukur terhadap Sang Pencipta.

“Sedangkan Beksan Sugriwa Subali, peserta diajak untuk belajar dari kisah Sugriwa Subali,” terang Aan.

Usai acara inti dilanjutkan sesi wedar kawruh. Tema yang diangkat tentang mengenal wayang yakni Tepang Wayang. Dalam kesempatan itu ditampilkan dua perempyan yakni dari Indonesia dan Belanda.

Semua peserta Geding Setu Legi wajib mengenakan pakaian Jawa. “Di sini kita ingin mengajak masyarakat untuk mengetahui dan nguri-uri budaya Jawa yang ada. Khususnya, di Purworejo,” jelas Aan.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Purworejo Said Romadhon mengungkapkan, Pemkab Purworejo memberikan dukungan untuk kegiatan pembinaan kebudayaan Jawa. Dia mendorong komunitas masyarakat bisa menjadi bagian dari kegiatan tersebut.

“Kegiatan ini tumbuh dari komunitas. Pemkab memfasilitasi. Ini memang menarik karena lokasi yang digunakan menjadi tempat bupati Purworejo yang pertama. Di sini juga ada gamelan, dan khusus Gending Setu Legi itu dimainkan,” kata Said.

Menurutnya, Gending Setu Legi ini melengkapi kegiatan seni di Kabupaten Purworejo. Setidaknya, kegiatan ini digelar dalam selapan atau tiga puluh lima hari sekali. (udi/amd)