RADAR JOGJA – Tragedi susur sungai pada anggota Pramuka SMPN 1 Turi, Sleman membuat kegiatan susur sungai disorot. Padahal kegiatan susur sungai memiliki maksud baik dalam mitigasi bencana.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ Biwara Yuswantana mengatakan, kegiatan susur sungai yang dilakukan siswa SMP 1 Turi dalam rangka pengenalan alam. Bukan dalam pengertian atau tujuan mitigasi bencana. “Susur sungai untuk mitigasi bencana harus dilakukan peserta dewasa, memiliki kemampuan pengamanan di air serta dilengkapi alat pengaman diri,” tuturnya, Minggu (23/2).

Biwara berharap adanya persitiwa di Sungai Sempor tidak membuat trauma pada anak-anak. Dia menyebut, kegiatan pengenalan alam tetap dilaksanakan dengan memperhatikan aspek keselamatan. Mulai dari cuaca, potensi serta risiko dari kegiatan tersebut harus diantisipasi. “Juga harus ada pendamping yang kompeten,” pesannya.

Sedang Ketua Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) DIJ, Endang Rohjiani berpendapat kegiatan susur sungai harus tetap ada. Namun perlu diperhatikan beberapa hal terkait kelancaran kegiatan dan keselatamatan peserta. Beberapa langkah kewaspadaan yang harus dilakukan adalah susur sungai dilakukan pada musim kemarau. Pada lokasi-lokasi yang bisa dijangkau, terdapat sempadan yang memungkinkan jika ada kejadian kedaruratan dapat cepat dievakuasi. “Jangan sampai faktor ini menghambat dan menghentikan anak-anak untuk belajar mengenal dan memelihara alamnya,” katanya.

Endang menjelaskan peserta harus didampingi oleh pendamping yang mengetahui kondisi lahan dan jumlah pendamping harus memadai sesuai dengan jumlah anak yang didampingi misalnya rasio 1 : 10 hingga 1:20. Jika pun harus masuk kedalam sungai, pendamping harus memilih titik-titik yang dangkal. Peserta tidak perlu dipaksa untuk masuk ke dalam sungai jika memang tidak memungkinkan secara morfologis, misal sungai yang mempunyai tebing yang tinggi. “Jika harus masuk ke dalam sungai, pendamping harus memilih tempat yang dangkal,” ujarnya.

Dia juga menyarankan beberapa pertimbangan antara lain susur sungai dilakukan sebelum tengah hari. Misal pukul 09.00-12.00. Adapun siang hari hingga sore berpotensi terjadi hujan tidak disarankan. Jika malam hari sebelumnya terjadi hujan sebaiknya kegiatan dibatalkan. Pun jika cuaca mendung sebaiknya kegiatan dibatalkan karena hujan bisa terjadi secara tiba-tiba. Penyelenggara harus memantau peringatan dini dari BMKG. “Ini juga penting, penyelenggara harus melibatkan warga atau komunitas sungai yang terdekat karena mereka lebih tau medan,” tambahnya.

Menurut dia, kegiatan luar sekolah yang memanfaatkan sungai dan sekitarnya adalah sebagai wahana pendidikan. Point-point yang diajarkan dalam pembelajaran di sungai itu seperti dapat mempelajari ekosistem sungai baik air dan biota yang hidup di dalamnya. “Mengetahui beberapa penyebab kerusakan sungai, melihat sumber air, mengkonservasi sempadan sungai, mengetahui sifat sungai, dan mengetahui kualitas air sungai,” tuturnya. (wia/pra)