RADAR JOGJA – Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Jogjakarta bergerak cepat atas polemik cukur gundul dan seragam tahanan tersangka kasus susur sungai Sempor. Hasil investigasi menyebutkan tak ada paksaan atas tindakan tersebut. Fakta ini didapatkan dengan komunikasi langsung kepada ketiga tersangka.

Biro Advokasi Perlindungan Hukum dan Penegakan Kode Etik PGRI DIJ Andar Rujito mengakui pihaknya sempat kelabakan atas isu tersebut. Terlebih pengunggah pertama adalah akun sosial media resmi milik PB PGRI Pusat. Hingga akhirnya bergulir dan menjadi keresahan di benak para guru.

“Ternyata itu wujud rasa tanggungjawab dan konsekuensi atas perbuataannya. Mereka (ketiga tersangka) ingin merasakan sama di depan hukum. Kalau teman-temannya tahanan juga digundul, tidak pakai sandal, dan pakaiannya baju tahanan, maka ingin disamakan,” jelasnya ditemui di Mapolres Sleman, Rabu malam (26/2).

Andar berharap temuan ini mampu meredam keresahan para guru. Terlebih gundul dan pengenaan seragam tahanan atas kesadaran masing-masing. Menurutnya langkah ini justru wajib diapresiasi. Berupa wujud pertanggungjawaban sebagai seorang guru atas kasus yang dialami.

Andar sempat tersentak atas pernyataan ketiga tersangka. Bahwa mereka tak ingin diperlakukan istimewa. Walau menyandang status guru, proses hukum harus berjalan sesuai koridor. Baginya, sikap ketiga pembina pramuka ini sangatlah ksatria.

Mengutarakan bahwa status guru bukan berarti ada sikap istimewa. Andar tak menampik awalnya ada kegeraman. Terlebih setelah adanya isu pemberlakukan secara tidak adil. Namun semua itu berubah setelah pertemuan langsung.

“Awalnya kami para guru memang sedih menangis, kok seperti ini, tetapi hari ini saya mendengar langsung, bahwa mereka sangat memahami dan bisa mengerti. Saya justru jadi sangat bangga atas sikap mereka,” katanya.

Ketua Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum (LKBH) PGRI DIJ Sukirno memastikan jajarannya akan terus mendampingi. Tak hanya itu, pihaknya juga telah menyiapkan upaya penangguhan penahanan. Pihaknya siap menjamin bahwa ketiga tersangka tetap kooperatif selama menjalani penyidikan.

“Banyak pertimbangan untuk penangguhan penahanan. Salah satunya adalah peran guru dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Ini masih koordinasi termasuk dengan penyidik Polres Sleman. Untuk tim advikat kami ada empat orang,” ujarnya.

Kapolres Sleman AKBP Rizky Ferdiansyah memastikan proses penyidikan berjalan sesuai koridor. Munculnya polemik cukur gundul juga telah direspon. Berupa adanya penyelidikan oleh Propam Polda DIJ. Rizky tak menampik adanya tindakan tegas apabila terbukti ada pelanggaran.

Dalam kesempatan ini Rizky juga menghimbau para warganet dan masyarakat. Agar tak melakukan aksi perundungan kepada keluarga para tersangka. Menurutnya para tersangka justru kooperatif. Mulai dari proses penyelidikan, penetapan tersangka hingga penyidikan.

“Saya bisa seperti ini karena guru, tidak mungkin memperlakukan guru secara tidak manusiawi. Disatu sisi prosedur hukum juga sudah pasti. Mereka (ketiga tersangka) itu sangat kooperatif. Saya minta agar masyarakat tidak mengecam keluarga tersangka, mereka tidak ada hubungannya,” pesannya. (dwi/ila)