RADAR JOGJA – Masih maraknya kasus kejahatan jalanan atau sering disebut klithih, di DIJ juga mengundang keprihatinan para pelajar. Apalagi mayoritas pelakunya masih berstatus sebagai pelajar. Mereka pun mengajak rekan-rekannya untuk melawan kejahatan jalanan.

Seperti yang dilakukan Forum Peduli Nusantara (FPN) Jogjakarta bersama dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIJ yang mengadakan deklarasi anti kejahatan di jalanan oleh para permakilan SMA/SMK se-DIJ. Acara tersebut dilakukan di Ruang Sasana Cipta, kantor Dikpora DIJ, kemarin (26/2). “Deklarasi tersebut dilakukan oleh 27 perwakilan SMA/SMK dari DIJ. Dan yang hadir di ruangan sebanyak 71 siswa. Besok rencana dengan Polda akan lebih besar lagi,” tutur Kepala Bidang Pendidikan Menengah Disdikpora DIJ Isti Triasih, Rabu (26/2).

Menurut dia, acara tersebut merupakan salah satu bentuk preventif untuk mencegah para pelajar untuk melakukan kejahatan di jalanan. Dia menyebutkan ada beberapa upaya yang dilakukan untuk mencegah hal tersebut diantaranya memberikan penguatan kepada guru-guru konseling, pihaknya juga bekerjasama dengan UGM untuk melakukan pendampingan kepada sekolah-sekolah. ”Kami juga mengajak praktisi seperti motivator dan Polda, Satpol PP, dan sebagainya,” jelasnya.

Dia menambahkan, keluarga merupakan faktor utama untuk mencegah kejahatan di jalanan. Selain dari pihak sekolahan, dinas, atau aparat, keluarga adalah kunci utama dan memegang peran sangat tinggi untuk menekan kejahatan di jalanan. Karena keluarga yang paling dekat dengan anak-anak. “Pendekatan berupa kasih sayang itu sangat penting,” tuturnya.

Dalam kegiatan tersebut sengaja para perwakilan pelajar se-DIJ untuk dibaurkan dalam satu ruangan dan diberikan pengertian dan pemahaman. Dengan berbaurnya para siswa siswi tersebut, ia berharap tidak akan ada lagi gab antar sekolah. “Dan akan menjadi langkah awal untuk mengikiskan para kejahatan di jalanan khususnya di kalangan pelajar,” jelasnya.

Sedang Kasi Latpuan Subdit Bhabinkantibmas Polda DIJ, AKP Murniati menyebutkan, faktor terjadinya kejahatan di jalanan yang dilakukan oleh kalangan pelajar karena anak-anak zaman sekarang ingin mencari jati diri dan keberadaanya diakui . Tetapi dengan cara dan jalan yang salah. “Contoh seperti sekarang banyak vandalisme di jalan-jalan itu,” katanya.

Namun, dia juga menyebutkan bahwa kejahatan di jalanan itu tidak melulu dilakukan oleh pelajar. Tetapi bisa juga dilakukan oleh pelaku kriminal murni yang bukan dari geng-geng sekolah. “Pelaku kriminal murni itu, mereka itu bukan geng tetapi juga melakukan tindakan krminal. Misalnya, preman, penjabret, dan sebagainya,” jelasnya.

Upaya yang dilakukan dari Polda untuk menekan klitih salah satunya dengan melakukan SSDP, yaitu satu sekolah dua polisi. Pihaknya menempatkan dua polisi di sekolah-sekolah yang termapping rawan. Akan ada Babin Kamtibnas dan anggota Polsek yang ditempatkan di sekolah yang berpotensi melakukan kenakalan. “Untuk menciptakan kemamanan dan tetertiban di seolah tersebut,” imbuhnya. (cr1/pra)