RADAR JOGJA – Antisipasi penyebaran virus korona dilakukan. Terlebih dampaknya sangat besar untuk semua lini. Salah satunya untuk dunia pariwisata. Terlebih beberapa forum pertemuan yang sedianya dilaksanakan di DIJ juga terpaksa dibatalkan.

Langkah ini sebagai wujud preventif dan antisipasi para penyelenggara. Kepala Dinas Pariwisata DIJ Singgih Rahardjo memastikan ada langkah strategis terkait corona virus 2019 (Covid-19). Walau kewenangan Dinas Kesehatan (Dinkes) DIJ, namun tetap ada koordinasi. Terlebih sektor wisata merupakan pintu masuk bagi warga luar Jogjakarta.

Jajarannya terus berkoordinasi dengan instansi kesehatan. Misalnya saja untuk rujukan utama berada di RSUD Sardjito dan RSUD Panembahan Senopati, Bantul. Termasuk penanganan awal di seluruh Puskesmas di Jogjakarta.

”Kemarin, sudah koordinasi dari Dinkes (DIJ). Itu sudah siap SDM dan peralatannya. Selebihnya ada 71 rumah sakit dan puskesmas yang juga siap menangani kasus itu. Dipastikan dari sisi medis, kami sudah siap,” jelasnya, Selasa (3/3).

Upaya deteksi dini juga berlangsung di sejumlah pintu masuk wisata. Terutama di pintu masuk penerbangan internasional. Langkah awal dengan mendirikan posko bersama waspada Covid-19 di Terminal B Bandara Internasional Adisutjipto.

Adapula pemasangan thermal scanner di terminal yang sama. Posko tersebut menjadi wewenang tim dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas IV Jogjakarta. Sementara peran Dispar untuk informasi destinasi terkait.

”Thermal scanner di sisi dalam, sementara di luar adalah posko informasi. Kalau posko luar itu gabungan bersama Angkasa Pura, KKP dan instansi perangkat wisata,” katanya.

Perhatian juga terfokus pada sejumlah stasiun kereta api di Jogjakarta karena merupakan pintu masuk wisata antarwilayah. Hasil koordinasi memastikan instansi moda transportasi darat tersebut telah siap.

”Ada kebijakan untuk tidak terbang dari dan ke Indonesia. Direct flight saat ini dari Singapura dan Kuala Lumpur,” katanya. (dwi/ila)