RADAR JOGJA – Dibandingkan kesenian tari dolalak, nama kesenian Purworejo ini memang kurang familiar. Orang jarang mementaskannya dan hingga saat ini pun keberadaan grup kesenian itu bisa dihitung dengan jari. Bahkan banyak orang menyebut jika kesenian ini hampir punah.

Ruang utama paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Purworejo agak berbeda dibandingkan hari biasanya pada Kamis (27/2) lalu. Sidang istimewa yang diadakan memang teramat khusus, karena digelar sebagai bentuk peringatan Hari Jadi ke-189 Kabupaten Purworejo. Dari gedung inilah semua disepakati jika hari jadi Kabupaten Purworejo diubah dari tanggal 5 Oktober ke 27 Februari.

Irama ritmis dari pukulan bende memang begitu keras terdengar. Di antara suara gemerincing itu sesekali terdengar bunyi kendang dipukul. Tidak berapa lama kemudian dari balik panggung muncul sebentuk bendera yang berkibar karena bergerak memutar.

Di bawah bendera ada barisan 17 orang yang mengenakan seragam dengan corak berbeda. Namun beberapa di antaranya mengenakan seragam yang sama dan tata urutan berdirinya juga disesuaikan dengan seragam itu.

Pembawa bendera sedikit berlenggak-lenggok agar bendera terus berkibar. Sementara barisan di belakangnya juga tidak secara tegak berdiri. Gerakan mereka seakan mengendap dan berusaha untuk tidak diketahui orang lain.

Ya, orang menyebut kesenian itu dengan cing po ling. Dan yang menjadi penampil dalam paripurna istimewa DPRD itu adalah grup reog Cing Po Ling Manunggal Roso. Mereka adalah warga Desa Jatirejo, Kecamatan Kaligesing, Purworejo, yang sejak 2015 mencoba melestarikan kesenian yang nyaris punah itu.

Ketua Reog Cing Po Lling Manunggal Roso Tukiyat mengungkapkan, kemunculan cing po ling sendiri sekitar tahun 1931. Sempat menghilang, namun di tahun 2015 dibangkitkan lagi dengan peran pamong budaya dari Pemkab Purworejo. “Aslinya penari ada 11 orang, tapi kami kembangkan sekarang jadi  17 orang. Ditambah dengan tiga orang penabuh bende,”  ungkapnya.

Menghidupkan kembali kesenian yang nyaris punah membuatnya cukup kerepotan. Narasumber yang ada hanya sedikit dan sebagian besar sudah sepuh. Dari informasi yang digali, kesenian ini dulunya muncul sebagai simbol penyamaran untuk pengiriman upeti ke Kerajaan Mataram (Jogjakarta). “Jadi penyamaran itu memang disengaja agar tidak diketahui oleh tentara Kolonial (Belanda),” tambah Tukiyat.

Dilestarikan di Jatirejo, Kaligesing, kesenian ini diakui Tukiyat juga ada dan berkembang di Kecamatan Pituruh, Purworejo. Namanya juga sama, demikian halnya dengan pengemasan. Hanya saja untuk Pituruh kata-kata cing po dan ling diberikan pemaknaan, sementara di Jatirejo tidak. “Cing itu krincing, po itu Dipomenggolo dan ling itu keling, yaitu penari yang berada di depan membawa bendera,” katanya.

Terkait keberadaan di Jatirejo, Tukiyat menceritakan jika cing po ling pernah mengawal Bupati Purworejo R. Moeritno Wongsonegoro saat turun dari Gunung Condong di Desa Hulosobo. Keberadaan bupati itu sendiri di tempat tersebut untuk menghindar dari kejaran Belanda. “Jadi waktu itu ibu kota pemerintahan Purworejo tidak ada di dalam kota, tapi di Hulosobo itu,”  ungkap Tukiyat.

Sebagai kesenian tua, Tukiyat mengakui jika nilai sakral memang ada. Bende yang kini digunakan pun diyakni berasal dari Kerajaan Mataram dahulu. Sampai saat ini pun bende itu selalu digunakan untuk jolenan di Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing.

Dia menyebut tanpa ada bende itu, warga meyakini akan ada bencana atau kejadian yang di luar nalar. Dan itu pernah terjadi, sehingga masyarakat Somongari tidak pernah lepas dari bende tersebut. “Dulu pernah saat jolenan bende itu tidak dipakai. Yang terjadi ada satu orang pengusung jolen tiba-tiba pingsan dan meninggal dunia,”  katanya.

Khusus di Desa Jatirejo sendiri, tampilan cing po ling itu juga tidak terlalu rutin. Hanya orang yang memiliki nazar atau melakukan ruwatan saja yang mengundang kelompok ini untuk tampil.

Meski demikian, Tukiyat mengaku akan tetap melestarikan kesenian itu. Walaupun disebut sebagai kesenian langka dan jarang ditampilkan, dia mengaku senang ada beberapa kesempatan yang selalu memanfaatkan kelompoknya untuk tampil. “Ada anak-anak muda yang mau bergabung. Kalau yang paling tua sudah berumur 60-an. Anggotanya juga tidak hanya kaum pria, tapi juga ada wanitanya,”  kata Tukiyat. (udi/laz)