RADAR JOGJA – Peringatan hari lahir (harlah) ke-94 Nahdlatul Ulama (NU) rencananya digelar di Masjid Gedhe Kauman, Jogja, Kamis (5/3) mendatang. Namun dengan adanya penolakan dari sirip organisasi Muhammadiyah, gelaran itu dipastikan berpindah lokasi.

Hingga saat ini baner bernada penolakan kegiatan Harlah NU tersebar di wilayah Kauman. Salah satu pesan bertuliskan “Tidak Ada Dasar Harlah NU di Kampung Kauman”. Pada bagian bawah tampak identitas penulis pesan yakni Warga Muhammadiyah Kauman.

Wakil Pengurus Wilayah NU (PWNU) DIJ Fahmi Akbar Idris menyatakan, kegiatan harlah tetap bakal digelar, namun lokasi pelaksanaannya akan dipindah. Ini dilakukan guna menyikapi penolakan dari warga setempat. Namun dia belum bisa mengkonfirmasi perihal lokasi penyelenggaraannya. “Bisa di UNU (Universitas NU) atau tempat lain. Tapi kalau NU biasanya di pondok,”  tuturnya.

Dia melanjutkan, tujuan digelarnya kegiatan adalah untuk mempererat hubungan antara Muhammadiyah, NU, maupun warga Kauman. Namun ternyata respons dari akar rumput dikhawatirkan akan menimbulkan gesekan. “Biasa saja tidak masalah (pindah lokasi). Ini kan kayak orang bertamu. Saya kira tidak menolak, tapi punya hajat lain,” tandasnya.

Adapun terkait kehadiran Gus Muwafiq, Fahmi sendiri mengaku belum menerima konfirmasi akan kehadirannya pada acara harlah. “Saya tidak tahu apakah teman-teman bisa mendatangkannya. Kehadirannya kalau sudah mengkonfirmasi, mungkin akan datang,” tuturnya.

Sekretaris Umum Takmir Masjid Gedhe Kauman Arief Purwanto mengatakan, Minggu malam (1/3) telah digelar pertemuan antara Pimpinan Cabang NU, Muhammadiyah, dan takmir Masjid Kauman. Mereka sepakat terus menjaga hubungan persaudaraan atau ukhuwah. “Dari sini tidak ada masalah, tapi orang dari luar belum tentu. Ini sulit untuk kita antisipasi,” katanya.

Secara pribadi dia mengakui ada hal kontroversial bila kegiatan tersebut tetap digelar. Sebab Kauman adalah tempat lahirnya organisasi Muhammadiyah. “Meskipun tidak ada ketentuan tertulis yang jelas masjid ini (Kauman) masjidnya Muhammadiyah atau NU, ini (masjid) kan jantungnya Muhammadiyah,” ungkapnya.

Selain itu, Muhammadiyah juga belum pernah melaksanakan perayaan milad di Masjid Kauman. Kegiatan itu biasa digelar di gedung pertemuan dan sejenisnya. Contohnya pada tahun lalu milad Muhammadiyah digelar di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

“Dari Muhammadiyah sendiri belum pernah mengadakan milad di masjid. Kalau teman-teman NU pinjam Sportorium UMY (untuk harlah) malah tidak masalah karena di sana lebih netral,” tuturnya.

Salah seorang warga Kauman yang tak berkenan namanya dikorankan mengaku keberatan bila harlah NU tetap digelar di Kauman. Sebab keputusan untuk menggelar harlah NU di basis Muhammadiyah dianggapnya kontroversial. “Padahal harlah biasanya dilakukan di tempat yang luas, sedangkan ini di masjid,” tuturnya.

Adapun Irsyad, seorang penjual peralatan ibadah di Masjid Kauman mengaku tak keberatan dengan digelarnya kegiatan itu. Sebagai pedagang ia justru mengaku senang apabila ada acara besar. Sebab bakal ada banyak pengunjung yang datang. “Tidak masalah bila tujuannya memang untuk kebaikan. Sebagai pedagang saya senang, kan jadi ramai,” terangnya. (tor/laz)