RADAR JOGJA – Jajaran Satresnarkoba Polres Bantul menangkap salah satu bandar sabu, Samudra Wahyu Herlambang (SWH). Tak main-main sebanyak 1,13 kilogram disita dari pria berusia 29 tahun ini. Tersangka ditangkap di rumahnya yang berada di Kadipaten Wetan, Kraton, Minggu dini hari (1/3) tepatnya pukul 01.20.

Tak hanya sabu, polisi juga menyita sejumlah barang bukti lainnya. Ada ganja seberat 25,58 gram, lalu tembakau gorilla seberat 25,68 gram, riclona sebanyak 15 butir, dan 1.000 butir pil trihexypenidyl.

“Tersangka ini selain bandar dan pengedar juga pemakai. Di rumah kos milik SWH kami menemukan tiga bong sabu. Kalau yang menguatkan sebagai pengedar karena ada temuan timbangan digital dan pembungkus plastic,”jelas Kapolres Bantul AKBP Wachyu Tri Budi Sulistiyono ditemui di Mapolres Bantul, Selasa (3/3).

Tertangkapnya Samudra mengungkap modus baru peredaran sabu. Dalam mengelabuhi polisi, sabu tak lagi dibungkus secara konvesional. Samudra memanfaatkan bungkus permen. Sabu seberat 0,5 gram dimasukkan ke bungkus permen kecil.

Bungkusan permen tersebut lalu dia sebar ke sejumlah titik. Transaski menerapkan taruh alamat. Usai mentransfer sejumlah uang, pembeli diberikan alamat peletakan permen sabu. ”Ini modus baru, disamarkan pakai bungkus permen. Kami berhasil sita 12 bungkus permen yang didalamnnya isi sabu. Untuk seberat 0,5 gram dijual seharga Rp 600 ribu,” ujarnya.

Penangkapan pelaku tergolong dramatis. Jajaran Satresnarkoba Polres Bantul terlebih dahulu melakukan pengintaian. Hingga akhirnya ada info akan adanya transaksi di daerah Kadipaten Wetan, Kraton, Jogja. Terduga tersangka menggunakan mobil berwarna putih.

Samudra, lanjut Wachyu, masuk dalam daftar pencarian orang. Dia ini tergolong licin saat akan ditangkap. Bahkan saat penangkapan sempat melakukan perlawanan dan berusaha kabur. Alhasil polisi menghadiahi telapak kaki kanan pelaku dengan timah panas.

“Kami kenakan Pasal 111 ayat (1) dan Pasal 112 UU RI. Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukuman maksimal adalah hukuman mati. Sosok ini memang residivis, sembilan lalu baru bebas (dari penjara) dengan kasus yang sama,” katanya.

Tersangka Samudra mengaku berjualan narkotika untuk menyambung hidup. Ini karena residivis kasus narkotika Polda DIJ ini mengaku tak mempunyai keahlian lainnya. Terkait modus permen, baru dia lakoni Januari. Untuk pemesanan, dia memanfaatkan aplikasi Telegram. (dwi/ila)