RADAR JOGJA – Koordinator tim respons corona virus 2019 (COVID-19) UGM dokter Riris Andono Ahmad memastikan ancaman vatalitas wabah ini rendah. Sebagai perbandingan, presentase COVID-19 sekitar dua persen, sementara ancaman SARS Corona virus dan MERS Corona Virus mencapai 10 persen.

Pernyataan ini guna menyikapi munculnya panic buying. Terutama aksi borong masker dan juga cairan pencuci tangan. Walaupun tak sepenuhnya salah, namun bersikap panic buying tidaklah bijak. Terlebih adanya aji mumpung untuk menjual kembali dengan harga tinggi.

“Agar masyarakat untuk tetap tenang menyikapi kemunculan Covid-19. Memang tak sepenuhnya bisa disalahkan kalau memang antisipasi. Tapi kalau sampai memborong apalagi untuk kepentingan ekonomi itu sudah sangat berlebihan,” jelas pria yang juga menjabat Pengajar FKKMK UGM Jogjakarta ini, Selasa (3/3).

Riris turut menyayangkan karena pemborong dalam kondisi sehat. Padahal pengguna masker idealnya adalah orang yang sedang sakit. Fungsinya untuk mencegah penularan kepada yang sehat. Sementara langkah antisipasi penularan warga sehat cukup dengan gaya hidup sehat.

Dia menjabarkan karakter dari Covid-19. Penularan tidak berlangsung melalui udara. Perantara utama adalah cairan batuk atau pilek dari penderita. Cipratan tersebut apabila terkena hidung dan mulut bisa menular. Bahkan dapat pula melaui percikan yang menempel di benda.

“Masker seharusnya diutamakan kepada yang merawat penderita atau si penderita itu sendiri. Penularan Covid-19 memang melalui droplet atau cairan. Seperti bersin, batuk atau saat sedang berbicara dengan jarak kurang dari satu meter,” katanya.

Berdasarkan pengamatan, mayoritas penularan akibat kecerobohan. Baik itu oleh penderita maupun calon penderita. Berupa sikap abai terhadap pola hidup sehat. Selain itu juga tak menjaga etika saat bersin atau batuk.

Riris menganjurkan agar masyarakat selalu mencuci tangan. Apapun kegiatannya, aksi bersih diri ini sangatlah efektif. Tujuannya untuk mengantisipasi penularan melalui sentuhan tangan. Tak hanya untuk Covid-19 tapi juga beberap jenis penyakit lainnya.

“Kita kan tidak tahu kandungan bakteri atau virus dari benda yang kita pegang. Habis pegang benda langsung usap ke hidung atau mulut. Ini bisa jadi potensi tertular, apalagi jika memang ada sosok yang terkontaminasi,” ujarnya.

Terkait gerakan cuci tangan tak harus melalui cairan pembersih tangan. Riris justru menganjurkan cuci tangan dengan sabun. Cara ini dipercaya lebih bersih dan higienis karena air yang digunakan mengalir.

“Kalau cairan pencuci tangan itu kan basisnya alkohol 70 persen. Bisa juga, karena ini cara instan. Langkah lain adalah menutup mulut dan hidung saat bersin dan batuk dengan siku bagian dalam. Atau kalau pakai tisu, segera dibuang ke tempat sampah,” katanya.

Dalam kesempatan ini Riris juga mendorong bijak bersosial media. Dia tak menampik munculnya kepanikan berawal dari sosial media. Persebaran informasi hanya berdasarkan argumen dan opini. Alhasil informasi sumir ini terus berkembang hingga menjadi kepanikan massal.

“Otoritas kesehatan yang terpercaya seperti Kementerian Kesehatan sudah memberikan akses informasi berupa situs. Disamping itu juga menjadi peran media massa untuk menyampaikan secara bijak. Bisa fokus informasi antisipasi, bukan membesarkan jumlah yang terpapar. Minimal agar masyarakat tak panik,”  harapnya. (dwi/tif)