RADAR JOGJA – Puluhan pedagang Pasar Ngadikusuman atau yang lebih dikenal Pasar Kluwih segera memiliki pasar baru yang memadai dan layak. Selama ini aktifitas jual beli berada di tepi jalan sudah sejak 1990 silam.

Eni Sumaryati salah satu pedagang minuman dan juga warga sekitar mengatakan keberadaan pasar Kluwih dampak ekonomi masyarakat meningkat dan memudahkan warga sekitar berbelanja kebutuhan harian. “Ya lumayan, yang penting bisa ramai di sini. Warga tidak perlu jauh-jauh ke pasar Ngasem,” katanya, Minggu (8/3).

Eni yang juga mengkoordinatori para pedagang itu menyambut baik dengan pembangunan pasar Kluwih baru. Namun masih ada muncul keresahan yaitu berupa fasilitas-fasilitas yang nantinya mendukung untuk berdagang. Beberapa kali mengikuti rapat internal dengan Disperindag, mendengar bahwa fasilitas pendukung hanya difasilitasi berupa meja-meja permanen untuk berjualan membentuk letter U. Tetapi tidak dengan fasilitas lain seperti lemari untuk menyimpan barang dagangannya. “Yang kami resahkan itu untuk penjual-penjual sembako kalau tidak ada lemari untuk menyimpan dagangannya, terus gimana,” ujarnya setengah bertanya.

Keresahannya terutama para penjual kelontong atau sembako maupun sayuran. Ketika tidak difasilitasi lemari-lemari penyimpan barang, maka akan kesulitan untuk mereka. Selama ini barang dagangan disimpan di rumah warga di sebuah ember maupun ada yang mengontrak sudah puluhan tahun. Karena rata-rata dari total 50 pedagang di sana berasal dari Bantul. Hanya sekitar 3-5 pedagang yang merupakan warga sekitar. “Kalau enggak ada lemari kasihan mereka harus bawa pulang lagi ubo rampe-nya misalnya ada beras, gula, dan lain-lain. Kan rumahnya jauh-jauh, kalau bisa dikasih lemari tapi katanya karena kalau malam mau buat kuliner,” terangnya.

Pedagang ayam, Rusminah mengatakan hal senada sehingga tidak perlu bawa-bawa alat timbangan ke pasar. Hanya tinggal menitipkan di lemari penyimpanan barang. “Selama ini meja, tenda dan timbangan kan saya titip warung orang. Kalau nanti nggak ada lemari ya saya nenteng-nenteng terus repot,” katanya.

Kendati demikian, dia menyambut baik juga dengan rencana akan dibangunnya pasar baru untuk para pedagang tersebut. Sejak 1990 silam, perempuan 62 tahun itu berjualan daging ayam dengan tenda buatan di tepi jalan. Merasa panas jika cuaca panas, dan kehujanan banjir ketika hujan turun. Dia berharap ketika bisa masuk pasar baru nantinya, bisa berjualan dengan lancar dan nyaman. “Alhamdulillah yo seneng, bisa jualan nyaman,” ucapnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Jogja, Yunianto Dwi Sutono mengatakan pasar Kluwih akan mulai dibangun triwulan dua pada 2020 ini. “Pasarnya akan jadi tahun ini,” kata Yunianto.

Pasar yang terletak di Jalan Suryoputran, Panembahan, Kraton, Jogja itu akan dibangun menyesuaikan denga kondisi lingkungan Keraton karena berada di kawasan njeron beteng. Dengan anggaran dana alokasi khusus (DAK) sebesar Rp 3,5 miliar. Bangunan pasar akan dibangun mendominasi dengan material dari kayu jati. Ini sesuai rekomendasi dari Badan Pertimbangan Pelestarian Warisan Budaya (BP2WB). “Bangunan full kayu rekomendasi dari BP2WB. Karena melihat kawasan di Keraton, seperti ornamen-ornamen juga sesuai ketentuan yang ada (di Keraton),” ujarnya.

Harapannya, ke depan tidak hanya sebagai pasar tradisional saja tetapi juga destinasi wisata. “Mungkin bisa dimanfaatkan warga setempat kearifan lokalnya, misal untuk hal yang lain seperti kulineran,” tambahnya.

Pasar dibangun tidak bertingkat dan tidak dilengkapi dengan basement. Namun 40 persen dari bangunan yang akan dikerjakan di bawah komando Disperindag ini sudah menyediakan space untuk parkir. Lahan yang akan dibangun pasar Kluwih itu milik pemkot yang dibeli 2017 dengan luas 500 meter persegi, sekitar 300-400 meter persegi merupakan bangunan pasarnya nanti. “Memang rencana tanah itu kami (pemkot) beli untuk mengakomodir dan melokalisir pedagang yang di tepi jalan. Memang sudah direncanakan,” ucapnya.

Dia memastikan, saat pelaksanaan pembangunan pasar para pedgang akan direlokasi tidak jauh dari wilayah tersebut. Pedagang tetap akan bisa berjualan seperti biasa. “Tetap jualan nanti di tepi jalan atau nempel-nempel di warga sekitar,” imbuhnya. (wia/pra)