RADAR JOGJA – Simposium Internasional Budaya Jawa digelar untuk membuka ruang diskusi terkait peradaban Keraton Jogja, khususnya melalui busana Jawa dan pengageman. Simposium bertajuk “Busana dan Peradaban di Keraton Jogjakarta” digelar di Hotel Royal Ambarrukmo sebagai rangkaian acara ulang tahun kenaikan takhta Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X.

Ketua Panitia Simposium Internasional GKR Hayu mengatakan, agenda ini menghadirkan tamu pembicara dari dalam dan luar negeri. Juga terdapat pembicara dari call for paper terpilih. Pesertanya akademisi, peneliti, atau peminat budaya Jawa dari segala penjuru Nusantara dan mancanegara.

Busana memiliki peran penting dalam sebuah kehidupan. Dalam perjalananya, busana mampu menjadi penunjuk identitas, gender, profesi, dan bahkan latar belakang budaya. Saat ini semangat modernitas telah mewarnai perkembangan busana dan menjadi jelmaan budaya yang terus berkembang.

“Total yang submit (abstraksi) ada 108 dan delapan dipilih menjadi pembicara di simposium. Sebagian yang tidak terpilih berkesempatan mengisi pameran untuk menyalurkan ide-idenya,” kata Hayu saat konferensi pers di Hotel Royal Ambarrukmo, Senin (9/5). Simposium digelar dua hari, kemarin dan hari ini.

Menurutnya, catatan masa lalu mengenai busana dapat digali kembali, diteliti, dan didiskusikan. Perbedaan pendapat perbincangan hendaknya dirayakan sebagai cara untuk memperkaya ilmu pengetahuan. “Tahun depan semoga temanya dapat berbeda lagi, tapi intinya adalah budaya Jawa,” paparnya.

Raja Keraton Jogja HB X mengatakan, kegiatan juga menjadi wujud keterbukaan keraton kepada publik. Seluruh masyarakat baik akademisi, peneliti, praktisi, hingga pelajar diberi ruang untuk berdiskusi dan belajar guna memahami budaya dan tradisi yang ada di  Keraton Jogja.

HB X menaruh rasa optimistis pada generasi muda dan keberlanjutan budaya keraton. Sebab, di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, tak membuat generasi muda kehilangan arah. Bahkan tetap memiliki ketertarikan pada budaya Jawa. “Bukan justru meninggalkan pengaruh lokal yang ada,” kata.

Dia mencontohkan pada pergelaran simposium tahun lalu. Seperti tahun ini, panitia juga menggelar pameran tematik selama satu bulan. Saat pameran berlangsung, peserta simposium diberi kesempatan mempresentasikan ide-idenya kepada para pengunjung.

“Kami  sediakan kursi 300. Tiap satu materi, kursi penuh anak-anak muda. Tiap hari ada dua materi yang disampaikan dan selalu penuh,” katanya.

Dia melanjutkan, budaya tradisional akan terus dimaknai secara baru oleh anak-anak muda. Sebab, budaya memang bersifat dinamis. Artinya, budaya berubah tiap penafsiran generasinya.

“Jangan takut anak lantas akan meninggalkan identitasnya. Itu tergantung bagaimana cara kita mendekatkan tradisi budaya ini agar tetap dapat menjadi dialog budaya,” tegasnya. (tor/laz)