RADAR JOGJA – Tingkat kehilangan air yang terjadi di PDAM Kota Magelang dinilai masih tinggi. Angkanya masih lebih dari 30 persen.

Untuk mengatasi hal ini, perlu dilakukan perbaikan jaringan perpipaan. Selain itu, perlu penambahan kapasitas produksi.

Demikian penjelasan Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito yang dibacakan Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina saat acara Tembang Tidar Bersama Moncer Serius di Lapangan Bogeman Kota Magelang Rabu (11/3). ”Ini menjadi tantangan bersama dalam mewujudkan ketersediaan akses air minum dan sanitasi yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, Kota Magelang memiliki Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT). Namun, pengelolaan instalasi tersebut belum optimal.

”Oleh karena itu, kita terus berupaya memperbaiki berbagai sarana dan prasarana. Utamanya untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dalam penyediaan air minum, sanitasi, dan perbaikan perilaku higiene,” jelasnya.

Cakupan akses air minum di Kota Magelang pada 2019 sebesar 94,64 persen. Sedangkan cakupan akses sanitasi pada 2019 masih sebesar 97 persen. Besaran cakupan ini belum dapat dipastikan berapa persen yang merupakan sanitasi layak dan aman menurut standar Sustainable Development Goals (SDGs).

Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang sejak dua tahun lalu bekerja sama dengan Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene-Penyehatan Lingkungan Untuk Semua (IUWASH PLUS) Regional Jawa Tengah. Kerja sama itu untuk mengupayakan kemudahan akses air bersih dan sanitasi.

Pemkot juga aktif melaksanakan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU). Selain itu, ada kredit sanitasi di Bank Magelang dan kemitraan dengan berbagai organisasi masyarakat serta Forum Corporate Social Responsibility (CSR).

Manajer IUWASH PLUS Regional Jawa Tengah Jefri Budiman mengutarakan, program Tembang Tidar Bersama Moncer Serius merupakan wujud dari kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) partisipatif terkait kegiatan di empat kelurahan. Yakni, Kelurahan Panjang, Kelurahan Rejowinangun Utara, Kelurahan Gelangan, dan Kelurahan Tidar Utara.

”Monev kita bersifat partisipatif dengan melibatkan masyarakat. Hasilnya dipaparkan di kegiatan ini agar dapat diketahui oleh masyarakat luas,” tuturnya.

Menurutnya, masalah air minum dan sanitasi tak akan terselesaikan jika hanya ditumpukan kepada pemerintah semata. Khususnya, Pemkot Magelang.

Peran serta masyarakat sangat diperlukan dan penting untuk suksesnya program ini. ”Program IUWASH PLUS akan berakhir 2021 nanti. Artinya, mulai dari saat ini diharapkan Pemkot Magelang bisa melakukan penyelesaian masalah air minum dan sanitasi itu dengan mandiri,” jelasnya.

Jefri menyadari, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Apalagi, dalam hal pendanaan.

Dia berharap masyarakat dapat berperan aktif turut menyelesaikan persoalan air minum dan santasi. Masyarakat dapat melakukan swadaya. ”Terutama dari mereka yang mampu. Mari kita bersama-sama mengatasi masalah sanitasi dan air minum ini,” imbuhnya. (asa/amd)