RADAR JOGJA – Jajaran Unit Reskrim Polsek Sleman berhasil meringkus mucikari penjaja pekerja seks komersial (PSK) bawah umur. Tersangka atas nama Ismu Sundarto (IS) alias Nofan (Nf), 25, berhasil ditangkap di salah satu hotel kawasan Jalan Magelang Sleman, Jumat (6/3). Bersamanya turut diamankan tujuh perempuan.

Kapolsek Sleman Kompol Sudarno menuturkan tersangka memperkerjakan dua perempuan bawah umur. Remaja atas nama inisial RS masih berusia 16 tahun. Sosok ini dipaksa melayani para hidung belang. Sementara remaja inisial EK berusia 15 tahun. Gadis ini bekerja sebagai admin.

“Jadi tersangka IS alias Nf ini membawahi tujuh anak buah. Empat perempuan dipaksa bekerja sebagai PSK, sementara tiga orang lainnya sebagai admin. Ada dua diantaranya yang masih bawah umur,” jelasnya, ditemui di Mapolsek Sleman, Kamis (12/3).

Terungkapnya kasus ini berawal dari laporan dari masyarakat. Berupa adanya transaksi bisnis esek-esek di salah satu hotel kawasan jalan Magelang. Saat didatangi sang mucikari dan anak buahnya sedang menunggu pelanggan.

“Itu kami tangkap Jumat malam(6/3) jam 22.30. Ada sembilan orang yang kami amankan. Selain mucikari dan tujuh anak buahnya, kami juga mengamankan satu orang pria hidung belang,” ujarnya.

Nofan cukup lihai dalam memperdaya calon anak buahnya. Diawali dengan pemasangan iklan lowongan pekerjaan sebagai pemandu lagu dan penjaga toko kerudung. Gaji yang ditawarkan berkisar antara Rp 1,5 juta hingga Rp 6 juta perbulannya.

Unggahan ini mencapat respon dari calon anak buahnya. Pria asal Dusun Giriharjo, Panggang, Gunungkidul bergerak cepat. Satu persatu calon anak buah PSK online dia jemput. Diawali dengan penjemputan RN di Banyumas, turut mengajak temannya TR.

Aksi berlanjut dengan menjemput RZ di Wonosobo. Bersamaan pula dengan penjemputan RS di Banyumas. Dua perempuan selanjutnya, EK dan AJ dijemput di Terminal Giwangan. Satu perempuan terakhir inisial TN datang sendiri menemui Nofan.

“Jadi yang diperkerjakan sebagai PSK, atas nama inisial RN, RZ, RS dan TN. Sementara tiga lainnya atas nama TR, EK dan AJ berperan sebagai admin media sosial. Tersangka memperjualbelikan jasa PSK online pakai aplikasi MiChat,” katanya.

Setiap peran dijanjikan upah yang berbeda. Untuk ketiga admin dijanjikan gaji sebesar Rp 1,5 juta perbulannya. Sementara untuk keempat PSK diberikan janji upah hingga Rp 6 juta perbulannya. Berdasarkan penyidikan, aksi ini sudah berjalan satu bulan.

Dalam penyidikan turut terungkap upah transaksi lendir. Berdasarkan pengakuan keempat PSK tarif yang dikenakan bervariatif. Catatan transaksi menunjukan tarif berkisar antara Rp 250 ribu hingga Rp 2,5 juta sekali main.

“Keuntungan pelaku IS alias Nf untuk satu bulan bisa sampai Rp 50 juta. Pengakuannya untuk bayar hotel, beli baju dan kebutuhan pelaku dan pekerjanya. Tapi para pekerjanya ini ternyata juga belum menerima gaji,” ujarnya.

Penyidik juga mendapatkan fakta mengejutkan. Nofan terbukti tak hanya menjajakan PSK online. Pria ini juga turut mencicipi para pekerjanya. Termasuk satu pekerja yang berstatus anak bawah umur. Setidaknya ada tiga pekerja yang menjadi korban nafsu Nofan.

“Pengakuan para korban (PSK Online dan admin) ada tiga orang (yang disetubuhi). Satu diantaranya berusia bawah umur. Minimal dua kali sudah disetubuhi oleh pelaku sebelum akhirnya ditawarkan ke pria hidung belang,” katanya.

Dalam penangakapan ini, penyidik berhasil mengamankan sejumlah barang bukti. Diantaranya uang tunai Rp 726 ribu. Merupakan uang sisa hasil transaksi selama satu bulan. Lima buah gawai berbagai merk hingga enam alat kontrasepsi merk Sutra.

Nofan diancam dengan pasal berlapis. Berupa Pasal 82 jo Pasal 76E Nomor 34 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Subsider Pasal 13 jo Pasal 2 UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perdagangan Orang. Lebih subsider lagi Pasal 506 KUHP.

“Didakwa pencabulan terhadap anak subside eksploitasi seksial anak, lebih subsider mengeksploitasi seksual. Termasuk transaksi kesusilaan dalam ITE. Ancaman hukuman berupa kurungan diatas lima tahun,” tegasnya. (dwi/tif)