RADAR JOGJA – Merebaknya virus korona membuat beberapa universitas mengeluarkan kebijakan kuliah online. Tapi, kebijakan ini justru dirasa oleh mahasiswa tidak efektif.

Radar Jogja menemukan Rama sedang hangout dengan lima temannya di salah satu warung olahan durian. Ternyata mereka sedang mengerjakan mini project. “Sebenarnya kami nggak punya niat buat nongkrong,” kata mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu.

Projek yang Rama dan teman-temannya kerjakan harus segera diselesaikan. Dan, diskusi melalui daring justru menyulitkan mereka. Sama seperti kuliah online yang tengah mereka lakukan. “Kami butuh tatap muka bersama dosen untuk menjelaskan materi,” cetus Rama.

Untuk antisipasi penularan virus korona, keenam mahasiswa itu membawa hand sanitizer dan menggunakan masker. Mereka pun tidak merasa risau untuk berkumpul di area publik, karena mereka dalam kondisi sehat. Selain itu tidak ada di antaranya yang baru pulang dari luar kota atau luar negeri. “Kami juga nggak ada yang baru berkegiatan di kerumunan,” tegas Rama.

Mahasiswa dari Universitas Alma Ata Yogyakarta Sultan Abdul Rasyid saat ditemui juga tengah menikmati hidangan di sebuah tempat makan. Dia mengaku sedang tidak memasak Senin (16/3).

Abdul mengatakan, kuliah online melalui e-learning rumit. Server universitasnya kerap down. Model tutorial juga dinilainya kurang. Akibatnya, mahasiswa jurusan perawat itu pun tetap harus ke kampus untuk praktikum. “Materi pembelajaran dari dosen jadi tidak menentu,” ujarnya.

Mahasiswa lain yang ‘tertangkap’ sedang berada di tempat nongkrong adalah Vina. Dia adalah mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kampus IV. Dia merasa kesulitan saat harus mempelajari materi seorang diri.

Dari pengalamannya hari itu, tidak semua dosen mewajibkan mahasiswa online saat jam perkuliahan. Selain itu, tidak semua kelas yang diselenggrakan kampusnya berbasis video call. “Hanya seperti class room,” ujarnya.

Vina diberi tugas untuk membaca skrip dan menonton drama oleh dosennya. Ia tidak mempermasalahkan biaya kuota untuk kuliah online. Sebab kuota sudah menjadi kebutuhan primer milenial. Selain itu sudah banyak kos yang menyediakan fasilitas wifi. “Tapi mata kuliah selanjutnya nggak ada kabar,” katanya.

Sementara itu, Penanggung Jawa E-Learning UMY Bambang Riyanta mengatakan, sejak beberapa tahun lalu UMY menyelenggarakan perkuliahan daring dengan modus blended learning. Lebih dari 600 mata kuliah yang diselenggarakan secara online.

“Sudah ribuan mahasiswa dari sebagian besar prodi telah mengikuti perkuliahan daring ini. Jadi kalau ada yang bilang tidak efekttif, itu data sangat jauh dari representatif,” kata Bambang Riyanta. (cr2/laz)