RADAR JOGJA – Dampak Corona Virus Disease 2019 (Covid19) atau korona mulai dirasakan di sektor ekonomi. Pengemudi ojek online (ojol) mengeluh orderan menurun. Begitu pula kalangan perhotelan.

Salah seorang pengemudi ojol, Iin Indayani memperkirakan, penurunan order karena sejumlah kampus di DIJ diliburkan. Menggantinya dengan sistem perkuliahan secara online. “Padahal, biasanya setiap pagi di jam sibuk, kami biasanya melayani jasa untuk para mahasiswa yang indekos,” tutur Iin kepada Radar Jogja, Rabu(17/3).

Dia mengukapkan, pada Januari jika dia berangkat pukul 06.00 sampai 15.00 bisa mendapat sekitar 20 ke atas pemesan. Setelah Januari, dari jam yang sama Iin hanya mendapat sekitar 11 pemesan. Dia mengaku semenjak korona ramai di Indonesia, dia sudah tidak kerja seintensif saat Indonesia masih aman korona. Dia menyebutkan sekarang mendapat sekitar tujuh pemesan saja. “Karena saya juga waspada di jalan, tidak full day kerja,” ungkapnya.

Pengemudi ojol lainnya Adi Setiawan Pramana juga mengeluh kondisi yang sama. Korona sangat berdampak bagi ojol. Apalagi setelah ada statement dari pemerintah sekolah dan perguruan tinggi dianjurkan belajar online di rumah. Dan beberapa tempat wisata ditutup. “Orderan jadi tambah sepi, omzet saya turun sekitar 30 persen setelah ada korona ini,” resahnya.

Meskipun demikian, beberapa antisipasi juga dilakukan oleh para ojol. Karena mereka akan kontak langsung dengan orang baru yang belum dikenali latar belakangnya. Iin mengantisipasi hal tersebut dengan selalu mengenakan masker dan mencuci tangan setiap ada tempat cuci tangan dan selalu menjaga kesehatan dirinya agar tidak membahayakan orang lain. “Untuk antisipasi saja, demi keselamatan bersama,” imbuhnya.

Sedang Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIJ Deddy Pranowo Eryono menyebut, hingga Minggu (15/3) tercatat ada 14.744 pembatalan pemesanan kamar hotel selama Februari hingga Maret. Tingkat hunian atau okupansi hotel pun tinggal 15,5 persen. “Begitu pula restoran yang menerima pembatalan pemesanan grup dengan total mencapai ribuan orang,” katanya dalam jumpa pers Rabu (17/3).

Ketua Indonesian Hotel General Manager Association DIJ Heryadi Baiin menambahkan, selama Februari hingga pertengahan Maret, hotel dan juga restoran di DIJ merugi hingga Rp 33,6 miliar. Menurut dia, wabah virus korona mampu memukul perekonomian Jogjakarta karena dirinya menganggap anjloknya okupansi hotel juga berdampak kepada pendapatan daerah. “Banyak sekali pembatalan okupansi hotel karena virus korona. Kerugian pun tidak dapat dihindari. Dan tentu saja memukul bisnis hotel dan restoran,” ujarnya.

Sebagai solusi, Deddy berharap semua komponen di DIJ bersata menangkal virus korona. Dengan terus menjaga kebersihan. Sekaligus juga mengampayekan Jogja yang aman dan nyaman bagi wisatawan. Mereka juga berharap ada keringanan biaya dari pemerintah untuk sektor hotel dan restoran. “Seperti relaksasi PPh pasal 21 untuk membantu likuiditas pekerja, dan PPh pasal 25 untuk memberi ruang likudiitas bagi pelaku pariwisata,” tegasnya. (cr1/mg1/mg3/pra)