RADAR JOGJA – Menyikapi pandemi Covid-19, Gubernur DIJ Hamengku Buwono X memutuskan untuk menutup kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas sekolah dari tingkat SD hingga SMA. Namun ini bukan berarti sekolah diliburkan. KBM dipindah ke dunia maya melalui aplikasi Jogja Belajar.

HB X berharap para orang tua dapat ikut mengawasi program pembelajaran online yang akan dilaksanakan. Program itu akan digelar selama satu minggu, tepatnya 23 Maret-31 Maret. Keputusan disebut dengan program Jogja Belajar.

“Kami mengeluarkan kebijakan dengan prinsip untuk mengontrol pelajar yang ada di rumah untuk belajar. Keluarga juga harus mendukung memberikan ruang belajar,” tandas Gubernur HB X di Kompleks Kepatihan, Kamis (19/3).

Siswa hendaknya memahami bahwa program jangan diartikan sebagai keputusan untuk meliburkan sekolah. Melainkan memindahkan kelas ke dunia maya. “Jadi tidak seperti di tempat lain, siswa jadi turis berwisata. Aplikasinya akan ditindaklanjuti oleh gugus tugas untuk verifikasi dan sebagainya,” katanya.

Lebih jauh HB X mengaku untuk segera menerbitkan Peraturan Gubernur agar masyarakat dapat menghindari dan menunda pertemuan yang mendatangkan orang dengan jumlah besar. Tujuannya untuk meminimalisasi penularan. Adapun terkait tempat wisata, tak akan dilakukan penutupan. “Nggak usah ditutup juga ora ono le teko. Karena orang-orang juga tidak datang. Belum ambil keputusan seperti itu,” jelasnya.

Kepala Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan DIJ Edy Wahyudi menuturkan, Jogja Belajar akan terus dioptimalisasi untuk mendukung keputusan gubernur. Platform ini tercipta sejak 2015.  Diklaim dapat mempercepat dan mempermudah proses KBM peserta didik. “Sehingga bisa jadi aliternatif untuk pembelajaran di rumah saat wabah seperti ini,” jelasnya.

Prinsip program ini adalah memindahkan kelas konvensional menjadi kelas maya melalui Jogja Belajar. Secara teknis guru akan membuat kelas maya, memberikan materi pembelajaran, mendata murid yang ikut kegiatan pembelajaran online, hingga interaksi tanya jawab. “Jadi tidak melalui video conference karena boros kuota,” tandasnya.

Sedangkan bagi guru yang tidak terlalu mengenal teknologi akan mendapat pendampingan dari guru lain yang lebih melek teknologi. “Kalau di sekolah ada guru canggih, akan diminta mendampingi,” katanya.

Namun pemprov tetap membebaskan pada sekolah untuk mencari platform alternatif lain untuk menerapkan pembelajaran di rumah. “Kami sudah mempersiapkan bandwitch 200 MB per second dan membenahi server yang ada. Seandainya ada pemutusan listrik, kami  sudah menyiapkan genset,” katanya. (tor/eno/laz)