RADAR JOGJA – Pil pahit harus ditelan para pelaku wisata di Lereng Gunung Merapi akibat virus korona. Imbas persebaran virus bernama lain Covid-19 ini di Indonesia, berdampak pada sepinya kunjungan wisatawan di Kabupaten Sleman.

Ketua Asosiasi Jeep Wisata Lereng Merapi (AJWLM) Bambang Sugeng menyatakan, semenjak isu korona merebak, jumlah kunjungan wisata, khususnya lava tour menurun drastis. Penurunan sampai 70 persen dari biasanya. Selain itu, banyak pula calon pengguna jasa wisata yang membatalkan kunjungannya.

Bambang menyatakan, sepinya pengunjung wisata Lava Tour dimulai sejak Sabtu (14/3) lalu. Sejak saat itu, kemuidan banyak rombongan wisatawan yang memilih tidak datang ke Jogjakarta.”Hari ini (kemarin, Red) sudah dapat informasi dari para komunitas jeep, banyak rombongan yang cancel,” ujarnya.

Menurut Bambang, para pemilik usaha jeep wisata di kawasan Gunung Merapi hanya bisa pasrah dengan keadaan. Meskipun Jogjakarta sendiri belum dalam status lockdown, isu korona diakui memang cukup berimbas pada kunjungan wisatawan. Bambang menyatakan, hal itu juga karena wisatawan mayoritas wisatawan yang datang banyak berasal dari luar daerah. “Semoga masalah ini bisa segera teratasi,” harap Bambang.

Kondisi yang sama juga dirasakan para pedagang di Bunker Kali Adem. Siti,59 salah satu pedagang makanan di kawasan tersebut mengaku pendapatannya turun drastis. Jika pada hari biasa dia bisa mendapat omzet Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu per hari, saat ini hanya Rp 10 ribu.

Siti mengakui pemasukan terbesar pedagang adalah dari hasil pembelian dari para wisatawan. Sepinya kunjungan wisata akibat pembatasan pergi di berbagai daerah, disebut sangat berdampak bagi kelangsungan usahanya. Siti pun sangat berharap permasalahan korona bisa segera terselesaikan.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Sudarningsih menyebut, kunjungan wisatawan selama Januari – Februari memang ada penurunan. Tahun sebelumnya pada periode yang sama, kunjungan wisata tercapai 1,2 juta wisatawan, tahun ini hanya 1,1 juta.

Sudarningsih juga meminta kepada setiap pengelola wisata bisa memberikan fasilitas cuci tangan yang memadai. Hal ini sebagai upaya pencegahan sebaran virus korona.

Sudarningsih juga berharap kepada seluruh pengelola wisata yang ada di Bumi Sembada untuk melakukan deteksi dini virus korona terhadap pengunjung maupun pemandu. (inu/din)