RADAR JOGJA – Coorporate Deputy Director of Pasenger Marketing and Sales at PT Kereta Api Indonesia (Persero) Asdo Artriviyanto mengakui ada penurunan jumlah penumpang kereta secara signifikan. Sebagai perbandingan data per Maret tahun lalu, jumlah penumpang turun sebanyak 40 persen. 

Kondisi ini telah berlangsung sejak awal Maret dan diprediksi stagnan hingga beberapa bulan kedepan. Terlebih beberapa kebijakan pemerintah daerah mulai membatasi pergerakan. Ditambah lagi ditutupnya sejumlah tempat wisata dan pusat keramaian pasca Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

“Penurunan secara nasional terjadi secara signfikan sejak awal Maret ini. Kalau untuk Januari dan Februari masih lebih tinggi dibanding tahun lalu. Dominasi memang dari rombongan wisatawan dan liburan sekolah,” jelasnya ditemui di Stasiun Lempuyangan, Sabtu (21/3).

Sesuai protokol penanganan Covid-19, pemerintah membatasi aktivitas warga. Termasuk beragam agenda dari instansi maupun sekolah. Alhasil sejumlah rute libur sekolah sepi peminat. Padahal momentum lonjakan penumpang terjadi di medio Maret hingga Juni.

“Dengan adanya Covid-19 semua agenda dibatalkan. Ini karena ada aturan dari Dinas Pendidikan didukung dengan peraturan Gubernur untuk tidak melakukan kegiatan yang bergerombol melibatkan banyak orang,” ujarnya.

Terkait penanganan tak sekadar sterilisasi. Upaya lain adalah penerapan tempat duduk berjarak. Berlaku untuk seluruh rute kereta api jarak jauh maupun jarak dekat. Tujuannya untuk memberikan jaminan kenyamanan dan kesehatan kepada penumpang.

PT KAI, lanjutnya, juga telah menyiapkan dua blok gerbong. Fungsinya untuk merelokasi penumpang yang enggan menerapkan protokol. Pemakluman ini berlaku bagi rombongan keluarga atau rekan perjalanan. 

“Atau yang menolak bersebelahan dengan orang lain. Bisa lapor ke kondektur agar dipindahkan. Karena memang tidak semua mau dipisahkan dari rombongannya. Tidak masalah karena memang sudah ada skenario yang disiapkan,” katanya.

Penurunan juga terjadi di sejumlah rute jarak dekat. Salah satunya adalah kereta Prambanan Ekspres jurusan Jogjakarta Surakarta. Berdasarkan data PT. KAI Daop 6 jumlah penumpang seluruh rangkaian tinggal 20 persen.

Manager Humas PT KAI Daop 6 Jogjakarta Eko Budianto membenarkan data tersebut. Fakta lapangan jumlah kursi Prameks banyak yang tak terisi. Walau begitu dia menjamin pelayanan tetap maksimal. Mulai dari jumlah gerbong hingga jam keberangkatan.

“Tadi pagi saya ikut naik Prameks yang jam 08.20 ke Solo. Dalam satu rangkaian itu hanya 30an penumpang. Padahal normalnya bisa sampai kisaran 300 sampai 400 an penumpang. Normal rata-rata sehari bisa 10 ribu penumpang, saat ini kisaran hanya 20 persen saja,” jelasnya.

Menurut Eko penurunan ini menunjukan kesadaran masyarakat. Terutama untuk patuh anjuran pemerintah. Berupa pembatasan diri untuk berinteraksi dengan dunia luar. Tujuannya untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Terkait  penerapan duduk berjarak, pihaknya membatasi jumlah penumpang kereta jarak dekat. Dari awalnya 150 persen menjadi 75 persen. Walau begitu, Eko menjamin skema ini tidak mengganggu jadwal kereta apik jarak dekat.

“Gerbong juga tidak dikurangi, hanya kapasitasnya saja. Dalam kondisi seperti ini, orientasi kami tidak lagi mencari penumpang sebanyak-banyaknya. Prinsipnya kami mendukung pemerintah pusat atas penanganan Covid-19,” katanya. (dwi/tif)