RADAR JOGJA – Dampak mewabahnya virus korona mulai dirasakan di jantung Kota Jogja, Malioboro. Pusat wisata Jogja itu mulai terasa dampaknya paska merebaknya virus korona. Jalanan mulai nampak lengang dari kendaraan bermotor dan wisatawan.

Kepala UPT Malioboro Ekwanto mengatakan, penurunan pengunjung dirasakan semakin lama semakin tinggi. Seperti melihat kondisi lokasi parkir Abu Bakar Ali (Aba) yang kosong. “Di sana kosong blong tidak ada bus yang masuk. Cuma tiga bus biasanya penuh,” katanya Minggu (22/3).

Dia menjelaskan penurunan mencapai 60-80 persen sangat signifikan. Beberapa kegiatan juga terkonfirmasi dibatalkan karena berpotensi mengundang kerumunan massa. Ini untuk mencegah potensi penyebaran dan penularan. “Banyak event di malioboro melalui rekomendasi kami mau tidak mau harus dibatalkan,” ujarnya.

Beberapa event yang dibatalkan antara lain Pawai Ogoh-ogoh Hari Raya Nyepi, Hari Tuberkulosis (TB) Nasional menghadirkan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto.Mangayubagya Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X. Launching Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Dan juga kegiatan-kegiatan yang semua izin melalui UPT ditunda. “Karena situasi dan kondisi tidak memungkinkan,” jelasnya yang menyebut malioboro tidak ditutup semua pihak harus bantu membantu untuk menjaga kebersihan.

Sementara Koordinator Pedagang Kaki Lima (PKL) Malioboro, Suparno Sito mengatakan kondisi Malioboro dengan kasus korona meresahkan masyarakat khususnya PKL kawasan malioboro. “Karena tidak ada penutupan area wisata dan pintu masuk Jogja,” katanya.

Kondisi tersebut kemudian dirasakan PKL baik kawasan malioboro atau pasar Beringharjo. Penurunan pengunjung khusus Malioboro mencapai 85 persen sejak empat hari lalu. Sebelum wabah korona kunjungan wisatawan bisa mencapai 5.000 orang dalam satu hari. “Sekarang ini jangankan ribuan pengunjung ratusan saja nggak ada,” ujarnya.

Sehingga berdampak pula pada pergerakan ekonomi PKL yang digantungkan dari kunjungan wisatawan. Akibatnya sebagian kecil PKL menutup diri atau sengaja meliburkan diri karena tidak ada pelanggan. Sedikitnya hanya 25 persen pedagang yang meliburkan diri, sisanya masih berjualan seperti biasa dengan tetap mengutamakan upaya pencegahan penyebaran dengan menyediakan tempat mencuci tangan dan hand sanitizer. “Memang teman-teman dari segi pendapatan hampir tidak ada sama sekali. Sekitar 25 persen PKL ada pendapatan, tapi sisanya rugi,” tambahnya.

Biasanya dalam satu hari mencapai omset Rp 1 juta, maka sekarang menurun drastis hanya Rp 250 ribu. Bahkan sampai ada yang tidak mendapatkan hasil karena tidak laku. Dikhawatirkan kondisi ini sampai berlarut-larut menginjak liburan bulan Ramadan dan lebaran Hari Raya Idul Fitri. “Padahal Lebaran itu puncaknya nilai jual dan omset,” ucapnya yang menyebut ditengah korona tinggal masyarakat lokal biasa yang berkunjung ke Malioboro. (wia/pra)