RADAR JOGJA – Kasus Demam Berdarah Dangue (DBD) di Gunungkidul mendekati tiga bulan terakhir meningkat tajam. Dalam rentang Januari-Maret 2020, tercatat ratusan warga terkena gigitan nyamuk aedes aegypti. Empat di antaranya meninggal dunia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Penularan Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul Sumitro mengatakan, dibandingkan triwulan pertama 2019, kini terjadi peningkatan. Tahun lalu di tiga bulan awal jumlah kasus baru 192 warga positif DBD.

“Hingga hari ini (kemarin, Red) tercatat 558 warga terkena DBD dengan jumlah korban meninggal dunia empat orang,” ungkap Sumitro, Rabu (25/3).

Untuk kasus meninggal dunia akibat DBD perbandingannya juga naik. Jika triwulan pertama tahun lalu satu kejadian, sekarang bertambah menjadi empat orang. Sebaran wilayah endemik DBD tidak mengalami perubahan, yakni Kecamatan Karangmojo, Ponjong, Wonosari, dan Patuk.

Kecamatan Wonosari menjadi yang tertinggi yakni mencapai lebih dari 70 kasus. “Meski ada peningkatan kasus DBD, belum ditetapkan KLB (Kejadian Luar Biasa),” ujar Sumitro.

Pertimbangannya, karena kasus DBD itu diklaim masih dapat dikendalikan. Sebagai upaya pencegahan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan koordinasi lintas sektoral dari tingkat kabupaten hingga desa diperkuat.

Pencegahan DBD bisa dilakukan dengan beberapa cara seperti fogging hingga PSN dengan program 3M (mengubur, menguras dan menutup) tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Fogging hanya menyasar nyamuk dewasa. Dengan demikian PSN paling efektif sebagai upaya pencegahan. Jika tidak, telur atau jentik dalam lima hari akan menjadi nyamuk, sehingga bisa menularkan DBD meski sudah dilakukan pengasapan,” katanya.

Sementara itu, seorang warga Putat, Kecamatan Patuk, Anton Wahyudi mengaku sempat menjalani perawatan medis hingga berhari-hari pada awal bulan lalu. Hasil diagnosa dokter, ia positif DBD. Sekarang sudah sehat dan tinggal mematuhi saran dokter serta imbauan dari petugas terkait pencegahan DBD. “Waktu itu satu keluarga saya sempat masuk rumah sakit secara bersamaan. Alhamdulillah sekarang sehat,” kata Anton.

Terpisah, Wakil Ketua DPRD Gunungkidul Heri Nugroho mengatakan, persoalan lingkungan harus menjadi tanggung jawab bersama. Upaya pencegahan hendaknya juga digalakkan agar ancaman DBD  bisa ditekan seminimal mungkin.

“Di tengah acaman Covid-19, penyakit DBD juga mengintai. Kami mendorong pemerintah agar bergerak cepat melakuan pencegahan secara masif,”  tandas Heri. (gun/laz)