RADAR JOGJA – Selain mewaspadai bencana wabah virus korona, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman juga meminta kepada masyarakat untuk memperhatikan potensi bencana lainnya. Mengingat potensi bencana hidrometrologi seperti pohon tumbang, tanah longsor dan banjir masih dapat terjadi saat ini.

Kepala BPBD Sleman Joko Supriyanto menyatakan, pihaknya hampir setiap hari menerima laporan terkait bencana pohon tumbang. Dengan sebaran wilayah hampir merata di seluruh Kabupaten Sleman.

Untuk itu, Joko menghimbau agar masyarakat lebih peka terhadap kondisi di sekitar tempat tinggalnya. Apabila ada pohon besar yang mungkin berpotensi rubuh supaya dilakukan pemangkasan.

Sebab, apabila pohon besar hanya didiamkan selama musim hujan ini, dikhawatirkan dapat menimpa bangunan seperti rumah atau semacamnya. Lebih parahnya lagi bisa mengakibatkan korban jiwa.”Setiap kali hujan pasti ada saja kejadian pohon tumbang, saya meminta masyarakat tetap waspada,” ujarnya, Rabu (25/3).

Upaya pemangkasan, bisa dengan meminta bantuan personel BPBD. Dengan langsung mendatangi kantor atau membuat pelaporan langsung kepada petugas desa tanggap bencana (destana).

Dia menyatakan, saat ini ada 2.500 personil BPBD yang sudah siaga. Guna menghadapi segala potensi bencana 2020, termasuk bencana hidrometrologi dan wabah korona.

Joko menyampaikan semua personel sudah disiagakan di seluruh kecamatan di Sleman. Lengkap dengan segala perlengkapan dan keahlian penanganan bencana.”Jadi seumpama ada kejadian atau butuh pertolongan pasti kami akan siap,” katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman Dwi Anta Sudibya menyatakan pemangkasan pohon bisa dilakukan secara mandiri oleh masyarakat, apabila dirasa membahayakan. Termasuk pada pohon besar yang berada di pinggir milik pemerintah.

Meskipun demikian tetap ada aturan khusus terkait hal tersebut. Dwi menjelaskan yang boleh dipotong hanya bagian ranting dan dahan saja, sementara batang utamanya diminta untuk dibiarkan.”Seumpama dirasa berbahaya kami mengijinkan untuk dipotong, tapi jangan seluruhnya,” ujar Dwi. (inu/din)