RADAR JOGJA – Warga di sekitar Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan butuh sosialisasi pencegahan dan antispasi penularan virus korona. Sebab, di tengah pandemi virus korona geliatnya tidak berubah.

Pembuangan sampah di dua titik dermaga pun tetap berlangsung. Berikut pemulung yang masih berkerumun mencari material berharga di tumpukan sampah.

Para pemulung di TPST Piyungan hanya menggunakan kaos sebagai penutup hidung dan mulut. Mereka tidak menggunakan jas pelindung diri.

Koordinator Komunitas Pemulung sekaligus juru bicara warga sekitar TPST Piyungan Maryono pun hanya memberi instruksi kepada rekan-rekannya untuk menggunakan sarung tangan. Pemulung, kesulitan mendapat masker, karena sudah tidak tersedia di apotek.  ”Warga telah meminta bantuan,” jelasnya.

Sampai saat ini, masyarakat di sekitar TPST Piyungan belum mendapatkan sosialisasi pencegahan dan antisipasi penularan virus korona. Bahkan, penyemprotan disinfektan belum dilakukan. “Harapannya orang dalam penantauan (ODP), pasien dalam pemantauan (DPD), dan fasilitas kesehatan tidak membuang sampah ke TPST Piyungan,” ujar Mariyono khawatir.

Kepala Balai Pengelolaan Sampah TPST Piyungan Fauzan Umar mengaku, balainya belum memberikan sosialisi pencegahan dan antisipasi penularan virus korona terhadap warga sekitar. Penyemprotan cairan disinfektan di sekitar TPST juga belum dilakukan. Dia berdalih kesulitan menentukan titik penyemprotan. “Karena nggak mungkin semua mau disemprot,” sebutnya.

Fauzan kemudian menyebut belum mendapat petunjuk dari dinas yang berwenang. Namun, dia mengaku telah melakukan penyemprotan terhadap kantor balainya. “Di TPST belum, cari obat susah,” kilahnya.

Sementara itu, Sanitarian di salah satu RS di Trimulyo, Jetis, Bantul Sarita menjelaskan, semua fasilitas kesehatan (faskes) diwajibkan memiliki tong sampah khusus untuk menampung limbah Covid-19. Tong sampah tersebut harus disegel sebelum diangkut tim pemusnah. ”Akan diangkut sekaligus oleh tim pemusnah tanpa mengeluarkan isinya,” jelasnya

Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Percepatan Penanganan Penularan Infeksi Covid-19 Sri Wahyu Joko Santosa menjelaskan, semua pembuangan limbah medis dilakukan oleh pengelola yang ada di Jawa Barat, tepatnya di Bogor. Limbah dikumpulkan dan secara periodik diambil oleh pengelola limbah dan tidak dibuang sembarangan. “Itu sudah aturan Kementrian Lingkungan Hidup,” ujarnya.

Ditambahkan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul Agus Budi Rahaja, selama ini di RS dan puskesmas menggunakan jasa transporter yang bekerjasama dengan pengelola limbah medis berizin. Tidak banyak, pengelolaan limbah yang berizin di negeri ini. Agus meminta masyarakat tidak perlu khawatir, sebab pembuangan limbah medis sudah memiliki mekanisme pembuangannya tersendiri. “Dan pengolahannya tidak di Jogja,” sebutnya. (cr2/bah)