RADAR JOGJA – Imbauan pemerintah untuk tidak boleh mudik saat lebaran karena Covid-19, berimbas pada pembatalan tiket perjalananan kereta api. Salah satunya di stasiun daerah operasional (Daop 6) Jogjakarta.

Humas PT KAI Daop 6 Jogjakarta Eko Budiyanto menyebutkan, pembatalan kereta di satu Daop mencapai kurang lebih 16 ribu penumpang.

“Sampai Jumat (27/3) untuk Stasiun Tugu pembatalan mencapai 6.000 dan Stasiun Lempuyangan 5.000 penumpang,” ujarnya kepada Radar Jogja, Jumat (27/3).

Dia menyampaikan, pemesanan tiket untuk lebaran pemesanan tiket lebaran dijual sejak 90 hari sebelum keberangkatan. Yakni sudah sejak 24 Februari. Pada saat itu banyak yang memesan tiket kereta untuk perjalanan ke luar kota seperti Bandung, Jakarta, Solo, dan sebagainnya.

“Namun, semenjak adanya virus korona banyak yang membatalkan,” ungkapnya.

Hal tersebut di tambah dengan imabauan pemerintah untuk tidak melakukan perjalanan ke luar kota untuk menekan penyebaran virus korona. Pihaknya juga mendukung imbauan tersebut. “Dengan banyaknya pembatalan tiket berarti masyarakat sudah sadar dan taat dengan imbauan tersebut,” imbuhnya.

Meskipun begitu, Eko menyampaikan, PT KAI Persero memberlakukan kebijakan pengembalian bea pemesanan tiket 100 persen. “Itu untuk pembatalan perjalanan perseorangan maupun rombongan mulai  23 Maret untuk keberangkatan sampai dengan 29 Mei ,” jelasnya.

Pembatalan tersebut dapat dilakukan langsung di stasiun yakni di loket pembatalan tiket atau melalui aplikasi KAI Access. Untuk rombongan yang telah melakukan uang muka dapat mengajukan pengembalian. Yakni dengan surat permohonan pembatalan kepada senior manager atau menajer angkutan penumpang dengan dilengkapi nomor rekening pemohon.

Kemudian, pemohon angkutan rombongan menyerahkan bukti setor uang muka yang sudah disetorkan ke rekening virtual account rombongan. Setelah itu, senior manager atau menajer akan melakukan permohonan pengembalian bea ke unit keuangan.

Selain itu, untuk rombongan tiket belum tercetak yang akan melakukan ubah jadwal, diberikan kesempatan yakni satu kali dalam rentang waktu 90 hari dari perjalanan  yang dibatalkan selagi masih ada tempat duduk yang tersedia. Ketentuan ini hanya berlaku selama masa darurat korona.

Salah satu calon penumpang kereta Naviah Yarotun Nisa, 23, mengaku telah membeli tiket dari Jogjakarta menuju Jakarta Pasar Senen untuk pemberangkatan pada 22 Mei. Namun, dia memilih ingin membatalkan tiket tersebut karena takut dengan adanya virus korona. “Sampai saat ini saya belum mengajukan pembatalan, tapi saya berniat ingin membatalkan tiket tersebut,” jelasnya. (cr1/din)