RADAR JOGJA – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ Biwara Yuswantana menganjurkan masyarakat mengganti komposisi cairan disinfektan. Dari yang awalnya bahan kimia menjadi cairan sabun. Langkah ini demi menjaga kesehatan tubuh dari bahan kimia.

Pria yang juga menjabat Wakil Sekretariat Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemprov DIJ menuturkan adanya kajian. Pihaknya disarankan oleh tim medis untuk mengganti cairan disinfektan. Termasuk memberikan edukasi kepada masyarakat.

“Senin kemarin (30/3) kami evaluasi, mekanisme seperti apa. Ternyata paling efektif dengan sabun. Infonya virus mengandung lemak, sehingga cairan sabun bisa melarutkan lemak. Silahkan masyarakat mengganti dengan cairan itu,” pesannya ditemui di Kantor BPBD DIJ, Selasa (31/3).

Walau begitu Biwara memastikan tak ada pelarangan penyemprotan. Hanya saja warga wajib mengevaluasi cairan yang digunakan. Terutama tidak menggunakan cairan kimia sebagai bahan disinfektan.

Penggunaan disinfektan, lanjutnya, hanya pada benda mati. Sementara untuk sterilisasi pada organisme menggunakan bahan yang lebih aman. Tujuannya agar kesehatan objek yang disemprot tetap terjaga. 

“Kami juga mengedukasi teknik tata cara penyemprotan. Personelnya wajib pakai alat pelindung diri (APD) agar tidak terkena. Lalu objek yang disemprot itu benda yang biasa tersentuh bukan asal,” katanya.

Saat ini BPBD DIJ memiliki program pembagian cairan disinfektan. Warga bisa mengambil dengan mekanisme tertentu. Salah satunya berupa surat pengantar dari RT/RW setempat.

“Silahkan mengantre untuk mengambil disinfektan. Kami juga edukasi untuk penggunaan dan penyemprotan yang benar,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo menuturkan telah ada panduan dari Kementerian Kesehatan. Berupa tata cara penggunaan cairan disinfektan. Penyemprotan hanya bisa menyasar pada benda mati. Bukan kepada organisme hidup maupun manusia.

Cairan tersebut adalah klorin, pemutih pakaian hingga pembersih lantai. Ada larangan untuk mencampur beragam cairan. Selain berdampak pada kesehatan juga pencemaran lingkungan.

“WHO tidak menyarankan penggunaan alkohol dan klorin ke tubuh manusia. Bahaya untuk membran mukosa seperti mata dan mulut. Bisa menimbulkan iritasi bagi kulitnya,” jelasnya.

Mantan Direkrur Utama (Dirut) RSUD Sleman ini memberikan beragam solusi. Mulai dari mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun. Hingga mengganti pakaian seusai aktivitas luar ruang.

“Melakukan physical Distancing atau jaga jarak fisik saat interaksi sosial atau berada di luar ruang. Minimal jarak satu meter jika berinteraksi,” katanya. (dwi/tif)