RADAR JOGJA – Sedikitnya 40 dari 190 warga binaan (WB) di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) kelas 2B Purworejo menjalani asimilasi di rumah, Kamis (2/4). Pemulangan ini menindaklanjuti Permenkumham Nomor 10 tahun 2020 tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Asimilasi dan Integrasi Dalam Rangka Pencegahan Covid-19 di Lapas dan Rutan.

Kepala Lapas Kelas 2B Purworejo, Lukman Agung Widodo mengatakan asimilasi di rumah itu dimaksudkan untuk meminimalkan penyebaran virus Corona di dalam Lapas. Kondisi dalam rumah tahanan (rutan) sendiri tidak memungkinkan jika diberlakukan social distancing.

“Hunian di dalam Rutan itu terlalu riskan jika dipaksakan karena warga binaan tidak bisa menjaga jarak,” kata Lukman Agung.

Dijelaskan jika ada seorang WB yang terpapar Covid-19, penularan akan berjalan sangat cepat. Hal ini dikarenakan, jarak antar WB sangat dekat karena keterbatasan tempat.

“Sampai saat ini di Rutan kami tidak ditemukan warga binaan yang terpapar Covid-19,” tutur Agung.

Berbagai langkah telah dilakukan untuk menghindari terjadinya persebaran virus tersebut. Setidaknya telah diberlakukan pola hidup bersih sehat (PHBS) dengan cara pengenaan masker, pemberian vitamin C dosis tinggi serta setiap pukul 10.00, WB diwajibkan untuk berjemur dibawah terik matahari.

“Berjemur itu dilakukan selama 15 menit,” imbuh Agung.

Lebih jauh Agung mengatakan jika berdasarkan aturan dari Menkumham syarat asimilasi adalah WB yang telah menjalani 1/2 masa pidana. Syarat kedua, WB telah menjalani 2/3 masa tahanan yang jatuh pada 31 Desember 2019 lalu.

“Khusus untuk mereka yang berperkara sesuai PP No 99 seperti korupsi, narkoba, teroris kejahatan transnasional dan TPPO tidak diberikan asimilasi di rumah,” imbuh Agung.

Meski demikian, ada catatan khusus dimana WB yang terjerat perkara narkoba dengan hukuman dibawah 5 tahun bisa diberikan asimilasi di rumah.

Disinggung mengenai jumlah ideal warga binaan di Rutan Purworejo, Lukman menyebut angka 122. Praktis dengan pengurangan 40 warga binaan dari total 190 orang, tingkat hunian di Rutan masih belum ideal. (udi/ila)