Promosikan Potensi, Desa Karangsari Gelar Cultural Event Kembangkan Desa Secara Insklusif MOTIFASI: Sarasehan dalam acara Cultural Event Desa Karangsari, Kecamatan Pengasih, Kulonprogo, kemarin. KULONPROGO, Radar Jogja-Desa Karangsari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulonprogo menggelar cultural event di Pasar Sor So Goa Batu Jonggol, Pedukuhan Gunung Pentul, kemarin (22/9). Kegiatan promosi potensi desa ini mengandeng seluruh elemen masyarakat, termasuk Kelompk Difable Desa (KDD). Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Swara Nusa Institute dengan pemerintah desa setempat. Selain KDD, organisasi masyarakat lokal yang terlibat diantaranya Forum Pemuda Penggerak Desa (FPPD), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Goa Batu Jonggol. Kepala Dinas Kebudayaan Kulonprogo, Untung Waluyo mengatakan, status Desa Karangsari yakni desa kantong budaya dan masih berupaya menjadi desa rintisan budaya. Kegiatan Kulutral Even serupa menjadi cara yang baik untuk promposi. Sejauh ini pihaknya terus mendorong, seluruh desa yang ada di Kulonprogo jika memiliki tradisi atau memiliki kelompok kesenian, segera didaftarkan ke dinas. Dinas Kebudayaan memang telah melakukan pendataan dan memberikan sertifikat sejak 2017 lalu. Namun bisa jadi ada yang terlewatkan. "Mungkin potensi ada namun sudah surut, maka patut diremajakan kembali. Status desa rintisan budaya juga penting, sebab kami tidak bisa mengucurkan bantuan tanpa ada dasar, setelah ada SK maka tidak khawatir menjadi temuan, dan memang ada potensi yang laik dikembangkan," katanya. Direktur Eksekutif Swara Nusa Institut, Iranda Yudhatama menjelaskan, Cultural Event kali ini mengangkat teman "Handarbeni Karangsari dengan tagline "Susah Seneng Mlaku Bareng". "Kegiatan ini merupakan bagian dari program Consortium in Villages (CIV), upaya kami melakukan pendampingan terhadap kelompok rentan dan marginal di desa ini," jelasnya. Menurutnya, pembangunan ekonomi desa yang inklusif itu penting, produk-produk warga desa, BUMDesa dan kelompok rentan Desa Karangsari juga harus dipromosikan. Dengan adanya kegaitan ini, bisa menginspirasi hingga menjadi produktif, bahwa pembangunan desa itu harus melibatkan semua warga tanpa terkecuali. Kegiatan dibagi menjadi beberapa segmen, diantaranya expo produk warga desa Karangsari termasuk produk dari kelompok difabel, perempuan, dan pemuda. Sarasehan dengan tema "pembangunan ekonomi dan budaya desa yang inklusif", dan musikalisasi puisi serta pementasan teater dengan judul "ngandel po ora"yang diperankan oleh KDD, FPPD, Pemdes, KWT, BPD dan seniman lokal Desa Karangsari. Ditambahkan, Alokasi Dana Desa jangan sampai hanya menjadi legitimasi rezim teknokratis. Undang-undang Desa harus memberikan kemanfaatan bagi semua warga desa, khususnya kelompok rentan. Masyarakat harus peduli dengan desanya begitu juga sebaliknya, pemerintah juga harus bisa responsif. "Dana Desa jangan sampai hanya dinikmati segelintir orang," ucapnya. Ditegaskan, Desa Karangsari memiliki jumlah penduduk yang padat, selain itu jumlah kelompok rentannya juga banyak, hal itu yang menjadi alasan kenapa desa Karangsari dipilih untuk didampingi. Kelompok rentan yakni kelompok maysarakat yang tidak diuntungkan. Misalnya perempuan kepala rumah tangga, difable dan kaum yang dinilai minoritas di sebuah wilayah. "Maka pengelolaan aset desa secara inskulisif itu perlu, garapan kami tidak hanya di karangsari, namun bisa direplikasi di semua desa d Kulonprogo," ujarnya. Salah satu peserta kaum difable, Gunarti, 50, Pedukuhan Ringinardi, Desa Karangsari, berharap dengan even ini desanya bisa lebih maju, potensi wisata lebih banyak dikenal dan banyak pengunjung. Selain itu karya kaum difabel bisa diapresiasi, hasilnya bisa dikenal dan terjual lebih luas. "Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendampingi kami. UU Desa menjadi harapan, desa berhak maju tapi tidak meninggalkan adat kebudayaan yang ada," ungkapnya. Videografer/Hendri Utomo/Radar Jogja Jogja Jateng Channel tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE.